Rabu 14 Jun 2017 19:37 WIB

Masjid Raya Ganting Embarkasi Pertama di Sumatra

Masjid Raya Ganting di Padang, Sumatra Barat.
Foto: en.wikipedia.org
Masjid Raya Ganting di Padang, Sumatra Barat.

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Pulau Onrust rupanya bukan satu-satunya embarkasi haji yang difungsikan pada masa kolonial Belanda. Di Padang, Sumatra Barat, ada pula tempat yang digunakan untuk mengumpulkan jamaah haji sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. Tempat itu adalah Masjid Raya Ganting.

Masjid ini dibangun pada 1805 atas prakarsa tiga orang berpengaruh pada masa itu, yakni Angku Gapuak (saudagar), Angku Syekh Haji Umam (tokoh masyarakat), dan Angku Syekh Kapalo Koto (ulama). Masjid ini baru dipergunakan pada 1810.

Sejarah mencatat, masjid ini menjadi saksi sejarah pasang surut perjalanan bangsa. Ia tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi menjadi pusat pergerakan kaum Padri. Masjid ini pun memainkan peranan penting dalam perkembangan sejarah perhajian Indonesia. Ya, karena Masjid Raya Ganting pernah menjadi tempat embarkasi haji, tepatnya embarkasi haji pertama untuk wilayah Sumatra bagian tengah.

Fungsi sebagai embarkasi haji mulai dijalankan masjid ini pada 1885. Di sini, para calon jamaah haji mendapat bimbingan manasik haji sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci melalui pelabuhan Emmahaven atau yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur.

Pengangkutan jamaah haji melalui pelabuhan Teluk Bayur memang sangat tinggi saat itu. Begitu juga pengangkutan batu bara, hasil perkebunan, dan barang dagangan lainnya. Bagi Belanda, pelabuhan ini tak kalah penting dengan Tanjung Priok untuk menghubungkan daratan Hindia Belanda dengan berbagai tempat tujuan dagang di sekitar Samudra Hindia, Laut Merah, dan Teluk Persia. Setiap musim haji, tiga kapal kongsi miliki Belanda, yaitu Rotterdamsche Llyod, Stoomvaartmatschappij Nederland, dan Stoomvaartmatschappi Oceaan akan merapat untuk membawa jamaah haji dari wilayah Sumatra.

Pada 1910, Belanda mendirikan  pelabuhan Teluk Bayur. Belanda juga membuat jalan batu melewati lahan Masjid Raya Ganting. Hampir sepertiga luas tanah wakaf untuk masjid ini digunakan sebagai jalan. Sebagai kompensasi atas tanah tersebut, Belanda membantu mengembangkan masjid ini melalui Komandan Korps Genie wilayah pesisir Barat Sumatra yang kekuasaannya meliputi Sumatra Barat dan Tapanuli pada saat ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement