Kamis 04 Jan 2018 13:42 WIB

Waiting List 13 Tahun, Aher: Kita tak Bisa Apa-Apa

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Petugas melakukan pemeriksaan calon jamaah haji kloter 6 asal Kota Bandung (Ilustrasi)
Foto: Republika/ Yasin Habibi
Petugas melakukan pemeriksaan calon jamaah haji kloter 6 asal Kota Bandung (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, BANDUNG -- Jamaah haji asal Jawa Barat yang menunggu atau waiting list untuk diberangkatkan, terus meningkat setiap tahunnya. Sayangnya, kouta pemberangkatan haji itu ditentukan dan dibatasi oleh Pemerintah Arab Saudi.

Menyikapi hal tersebut, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, persoalan itu tidak hanya dialami oleh Indonesia. Namun, juga dialami oleh negara-negara lain, karena didasarkan pada kemampuan dan kapasitas jamaah yang terbatas di Tanah Suci.

Ahmad Heryawan pun mengajak masyarakat untuk menyadari dan mengambil hikmah banyaknya waiting list atau daftar tunggu jamaah haji di Jawa Barat. Karena, menurut dia, ada hal lain yang perlu dianalisis. Hal pertama, kesadaran beragama masyarakat kita semakin tinggi. Kedua, meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

"Kesadaran beragama di kita sangat tinggi. Dulu kan jarang yang mau ibadah haji. Tapi, sekarang luar biasa jumlahnya sampai waiting list hingga 12 tahun, 13 tahun. Ini menunjukkan, kesadaran bergama sangat luar biasa," ujar Aher sapaan Ahmad Heryawan, Rabu petang (3/1).

Aher menilai, saat ini, agama betul-betul masuk merasuk ke ruang kepribadian mereka. Khususnya, masyarakat Jawa Barat. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa ekonomi bangsa, termasuk masyarakat Jabar, meningkat kesejahteraannya. "Sebab, kalau tidak sejahtera tidak bisa berangkat haji. Itu yang paling penting," katanya.

Pemerintah Arab Saudi, kata dia, memberikan kuota sebanyak 210 ribu jamaah untuk Indonesia setiap tahunnya. Batas kuota ini, dibagi-bagi ke seluruh daerah dan Jawa Barat menjadi provinsi tertinggi yang mendapatkan kuota sebanyak 38 ribu lebih jamaah setiap tahun. Hal ini karena Jawa Barat memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

"Jadi, memang jatah kita hanya itu. Pendaftar itu sangat banyak, antre menunggu jatah. Tapi, tiap tahun yang diberangkatkan hanya 38 ribu. Nggak bisa apa-apa kita," kata Aher.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement