Selasa 31 Jul 2018 10:28 WIB

Gerhana, Munajat, dan Kebersamaan di Masjid al-Haram

Peristiwa alam langka ini pernah terjadi 83 tahun lalu.

Erdy Nasrul
Foto: doc
Erdy Nasrul

IHRAM.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul

Laporan langsung dari Makkah

Bulan menunjukkan dirinya dengan utuh, bulat penuh bercahaya putih pada Jumat (27/7) pukul 19.00 waktu setempat. Pemandangan itu terlihat jelas di belakang Kantor Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Makkah.

Cahayanya menyinari bukit batu yang angkuh menantang langit. Puncak bukit tak bernama, yang tandus, gersang, dan buruk rupa itu nyaris merusak keindahan sang dewi malam.

Saya dan belasan petugas media center haji (MCH) menumpangi mobil yang dikemudikan Pak Aik, pengantar setia. Kendaraan melaju menelusuri Jalan King Fahd di bawah sinar rembulan. Tujuan kami adalah Masjid al-Haram, episentrum kota Makkah.

Di pintu terowongan kami turun. Tampak para pengendara menghentikan mobilnya. Wanita yang mengenakan abaya serba hitam dan anak-anak turun menapaki jalan menuju eskalator.

Kami berjalan di belakang mereka, bergerombol. Tiba di Kompleks al-Haram, mereka tak lagi terlihat, berjalan entah kemana. Sementara kami melangkahkan kaki menuju lantai puncak masjid suci tersebut, mendaki tangga di dalamnya hingga menginjak kepala masjid.

Dengan beratapkan langit cerah Muslim dari berbagai negara duduk di muka pagar pelindung. Di sana kami berdiri melihat jamaah haji mengelilingi Ka’bah, karya malaikat dan para nabi.

Kubus berbalut kain hitam itu tetap diam, meski ribuan orang sekitar bergerak penuh tenaga mengitarinya. Jika sudah sampai tujuh putaran, maka petawaf akan pergi menuju tempat sa’i (mas’a). Kemudian jamaah haji yang lain masuk kedalam barisan tawaf. Mereka terus berjalan mengelilinginya sambil bermunajat.

Ratusan meter dari tempat kami berdiri tampak dengan jelas Menara Zamzam. Jam di bagian atasnya yang dihiasi kaligrafi doa untuk Rasulullah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat.

Di samping menara berpuncak sabit tadi terlihat rembulan yang tak lagi bercahaya penuh. Perlahan dan pasti cahaya putihnya terselimuti bayangan bumi. “Akhi...hadza khusuful qamar.  (saudaraku...ini adalah gerhana bulan),” kata seorang tua Arab tak dikenal yang tiba-tiba menyapa saya.

Sebentar lagi bulan menghilang beberapa saat. Ini gerhana bulan total. Orang tua itu terus berbicara. Saya menganggukkan kepala. Pria itu kemudian mengucapkan salam perpisahan. Lalu berjalan ditelan keramaian.

Sebelum bulan kehilangan sinarnya, saya mengabadikan peristiwa alam yang langka ini, sunnatullah yang menurut ilmuwan setempat, pernah terjadi 83 tahun lalu. Teman-teman MCH lainnya membuat rekaman video yang kemudian disebarkan ke berbagai platform media sosial.

Jumat hendak berakhir. Pengumuman shalat gerhana berjamaah dikumandangkan. Ribuan orang berdiri, termasuk kami, membentuk barisan shalat. Kedua tangan kami angkat, tanda mengakui kebesaran Allah dengan menghadap Ka’bah. Namun ketika itu, para petawaf tak berhenti mengitari Ka’bah, bagian dari umrah wajib.

Sang imam dengan suara mendayu membacakan surah pembuka, dilanjutkan dengan al-Kahfi, Fathir, Sajadah, dan al-Waqiah. Sungguh shalat yang panjang dan melelahkan, tapi bermakna. Ini adalah doa yang meruntuhkan ego dan keangkuhan.

Selesai shalat, bulan tampak berbeda, samar kemerahan, karena pantulan cahaya dari planet lain. ‘Bulan berdarah’ ini menarik perhatian. Banyak jamaah mengangkat ponsel cerdasnya mengabadikan sunnatullah ini.

Sebagian jamaah di atap al-Haram mengangkat kepala, mengarahkan pandangannya menuju sang bulan yang memerah. Sementara kami meninggalkan al-Haram, berjalan menuju Menara Zamzam untuk berkumpul dengan petugas haji lainnya.

Ketika sampai di luar bangunan masjid, tampak jamaah berkumpul. Kaum wanita menyuguhkan hidangan makan malam beserta minuman. Suami mereka dan anak-anak menyantapnya penuh semangat. Aroma hidangan berempah khas Arab tercium. Ini berasal dari perpaduan bawang goreng, cengkih, ketumbar, bercampur daging dan nasi. Sungguh harum menggugah selera.

Sementara itu bulan semakin samar, seperti malu karena penampilan merahnya. Hingga kemudian dewi malam bersinar kembali dengan percaya diri pada saat Jumat telah pergi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement