Rabu 29 Aug 2018 11:15 WIB

Ribuan Jamaah Dapatkan Layanan Kesehatan

sejak awal musim haji pihaknya sudah melayani 2006 pasien.

Petugas kesehatan menangani jamaah yang menderita sakit di Pos Kesehatab Haji Indonesia di Arafah, Ahad (19/8). Hingga Ahad siang, sedikitnya 10 jamaah telah dirawat dan salah satunya harus dirujuk ke RS Arab Saudi.
Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Petugas kesehatan menangani jamaah yang menderita sakit di Pos Kesehatab Haji Indonesia di Arafah, Ahad (19/8). Hingga Ahad siang, sedikitnya 10 jamaah telah dirawat dan salah satunya harus dirujuk ke RS Arab Saudi.

IHRAM.CO.ID, OLEH ERDY NASRUL dari Makkah

MAKKAH — Ribuan Jamaah haji Indonesia mendapatkan pelayanan kesehatan di Tanah Suci. Mereka mengeluhkan beragam gangguan kesehatan yang merusak kenyamanan mereka beribadah.

Direktur Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah dr Nirwan Satria mengatakan sejak awal musim haji pihaknya sudah melayani 2006 pasien. Yang menjalani perawatan mencapai 1100 orang.

Yang sudah pulih dan kembali berkumpul bersama jamaahnya mencapai 1996 orang. Sedangkan yang  dirujuk ke rumah sakit setempat mencapai 400-an orang. Saat ini masih ada 142 orang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

“Semuanya jamaah haji Indonesia. Gratis. Biaya sudah ditanggung,” katanya di Aziziyah Makkah pada Rabu (29/8).

Pada awal kedatangan jamaah ke Makkah pihaknya sudah menerima limpahan pasien dari KKHI Madinah. Jumlahnya belasan orang. Kian hari jumlah pasien kian bertambah. Cuaca yang panas ekstrem dinilainya menjadi salah satu penyebab jamaah mudah terserang penyakit.

Ada pasien yang sekadar rawat jalan. Ada pula yang harus dirawat untuk observasi dengan obat. Bahkan ada yang harus dirujuk ke rumah sakit setempat, karena peralatan medis di KKHI tidak memadai.

Pasien membludak pada saat puncak haji. Sepanjang prosesi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan Mina, pihaknya harus merawat 310 orang jamaah. “Kebanyakan kelelahan karena kepanasan, belum makan, dan memaksakan diri berjalan ke Jamarat,” kata dokter spesialis anastesi ini.

Pasien yang dirawat membludak. Ruang perawatan tak mampu lagi menampung mereka. Tempat tidur darurat pun difungsikan untuk merawat mereka. Tim medis harus bekerja ekstra untuk memberikan obat, memeriksa perkembangan mereka, dan memasukkan data perkembangan kondisi pasien setiap hari.

Nirwan mengatakan, rata-rata jamaah yang sakit disebabkan penyakit paru-paru. Ada pula yang mengidap penyakit bawaan dari Tanah Air, seperti kelainan jantung dan diabetes. Faktor kelelahan dan suhu ekstrem berpengaruh besar terhadap penyakit mereka yang semakin parah.

Sebagian jamaah yang membutuhkan perawatan ekstra juga ada yang direkomendasikan pulang cepat (tanazul). Mereka terpaksa dipisahkan dari kelompok terbangnya. Jumlahnya mencapai 40-an orang. Di antaranya adalah pasien yang menderita gangguan ginjal. Karena KKHI tak memiliki fasilitas alat cuci darah, maka pasien tersebut direkomendasikan untuk segera pulang.

Tim dokter spesialis penerbangan juga masih meninjau kesehatan pasien yang akan diberangkatkan pulang. Kalau memungkinkan dan memang layak, maka dokumennya akan segera diurus. KKHI juga akan mengantarkan mereka ke Jeddah untuk perpulangan.

Namun semuanya belum diberangkatkan pada hari pertama dan kedua perpulangan. Sebabnya, masih harus mengondisikan tempat duduk.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement