Jumat 31 Aug 2018 11:33 WIB

Haji Bukan Tujuan Akhir

Haji merupakan captive market yang menggiurkan.

Haji
Foto: AP Photo
Haji

IHRAM.CO.ID,  OLEH ERDY NASRUL dari Makkah

MAKKAH — Penyelenggaraan haji tak hanya berlangsung 72 hari, tapi sepanjang tahun. Selama itu, interaksi untuk kemaslahatan penyelenggaraan haji tak berhenti. Berbagai pihak mulai panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH), pengusaha setempat, aparatur negara, terlibat aktif.

“Saya katakan bahwa haji tak berhenti pada proses ritual. Ibadah itu menjadi pengikat hubungan bilateral kita dengan Arab Saudi dan berbagai pihak di dalamnya. Hubungan perdagangan kita terus membaik. Ekspor non-migas kita meningkat,” kata Konsul Jenderal RI di Jeddah M Hery Saripudin di kantornya pada Kamis (30/8).

Haji merupakan captive market yang menggiurkan. Barang asal Indonesia apa pun bentuknya, katanya, pasti laku dijual di Saudi, terutama makanan. Sebab, jamaah haji dan umrah pasti mengincar makanan Indonesia, seperti mie instan dan bumbu masak,

Meski menikmati nasi mandy, bukhari, briyani, dan kuliner khas Arab lainnya, lidah orang Indonesia pasti tak asing, bahkan merindukan cita rasa mie instan, bakso, tempe, rawon, dan banyak lagi. Karena itu bisnis produk Indonesia, termasuk makanan, sangat menguntungkan.

Sebanyak 400 ribu warga Indonesia menetap di Saudi (mukimin) mereka tersebar di wilayah Makkah, Madinah, Jeddah, Riyadh, dan lainnya. Setiap hari mereka mengonsumsi makanan Indonesia seperti tempe dan tahu yang pabriknya berlokasi di Jeddah.

Jumlah itu belum termasuk masyarakat setempat yang merupakan keturunan Indonesia. Mereka adalah warga Saudi dengan gelar seperti al-Asyi (Aceh), al-Banjari (Banjarmasin), al-Fadin (Padang), melayu (al-Jawi). Mereka sudah pasti tak asing dengan makanan dan produk Indonesia. Bahkan masyarakat lokal Saudi pun menikmati sejumlah produk Indonesia. Mereka mengonsumsinya sehari-hari karena higienis dan halal.

Hery menyatakan haji dan umrah harus dimanfaatkan untuk peningkatan devisa negara dan menguatkan kepentingan nasional. Pengusaha nasional harus menjalin komunikasi dengan para saudagar Saudi agar ekspor produk Indonesia terus meningkat, terutama menjelang musim haji.

Konsul Jenderal menjelaskan, setiap tahunnya ada 1,3 juta jamaah umrah datang. Belum lagi jamaah haji yang mencapai 220-an ribu orang dari Indonesia. Semuanya akan lebih baik bila difasilitasi dan dilayani dengan produk dalam negeri.

Hotel tempat menginap jamaah misalkan, sangat mungkin diwajibkan untuk menggunakan handuk, sabun, dan sampo, buatan Indonesia. Kalau ini terjadi maka akan ada ratusan ribu kamar mandi hotel menggunakan produk Indonesia. “Pasarnya jelas ini. Harus dimanfaatkan betul,” ujarnya.

Pihaknya berharap pada penyelenggaraan haji tahun depan pelaksana fungsi ekonomi dan perdagangan lebih aktif mengawasi jalannya pelayanan akomodasi dan katering jamaah. Terutama dalam hal kinerja importir barang dari Indonesia.

Mereka diharapkan lebih memprioritaskan barang Indonesia untuk masuk dan dimanfaatkan para jamaah haji. Konsulat Jenderal Jeddah sudah memfasilitasi mereka untuk menjalin hubungan bisnis dengan pengusaha Indonesia. Harapannya, hal tersebut meningkatkan angka perdagangan Indonesia dan membantu melayani jamaah haji dan umrah di Tanah Suci agar mendapatkan produk negeri sendiri.

Bahasa

Hery menjelaskan, antusias masyarakat Saudi dengan terhadap kultur Indonesia sangat besar. Setiap tahun pihaknya selalu membuka kursus Bahasa Indonesia untuk warga Saudi untuk 80 orang, tapi pendaftarnya mencapai 120 orang bahkan lebih.

Di kawasan perbelanjaan, penjaga dan pemilik toko berusaha sebisa mungkin berbahasa Indonesia untuk memikat jamaah haji Indonesia. “Hanya bermodalkan sapaan apa kabar, penjual sudah bisa menyentuh hati jamaah Indonesia sehingga mau berbelanja banyak. Ini luar biasa,” ujarnya.

Ada jutaan orang Indonesia tersebar di Makkah, Madinah, dan Jeddah. Setiap harinya ada ribuan orang berbelanja. Kebiasaan orang Indonesia, kata Hery, belum selesai umrah atau pun haji, mereka sudah memenuhi kopernya dengan oleh-oleh. Mereka pasti berbelanja di toko-toko setempat yang kebanyakan penjaganya bisa bahasa Indonesia.

Karena penjaganya bisa bahasa Indonesia, jamaah tak banyak menawar. Mereka cepat memborong sejumlah barang untuk dikirim ke Tanah Air. Berdasarkan pantauannya, hal ini berbeda dengan jamaah dari negara lain yang banyak menawar harga. “Orang kita lebih diutamakan di sini,” kata Hery.

Ketika menghadiri pertemuan di Universitas Ummul Qura Makkah, pihaknya pun mempersilakan civitas akademika di sana untuk belajar bahasa Indonesia dibantu petugas KJRI. Pemerintah Indonesia akan memfasilitasi mereka semaksimal mungkin sehingga budaya Indonesia menyebar luas di bumi para nabi.

Hery menjelaskan Indonesia merupakan bahasa kedua di Arab Saudi. “Masyarakat di sini lebih memilih Indonesia ketimbang Inggris, karena itu bukan semata-mata bahasa percakapan, tapi komersil. Kalau mau mendapatkan pelanggan dan keuntungan lebih ya harus bisa bahasa Indonesia,” imbuhnya.

Pengusaha berdarah Indonesia Fauzi Bawazir mengatakan, jamaah haji dan umrah merupakan konsumen yang dihormati. Mereka mencari produk seperti makanan dan minuman khas Indonesia, di antaranya adalah kopi dan mie instan.

Pihaknya selalu kebanjiran pesanan menjelang Ramadhan dan musim haji. Pada dua momentum tersebut wholeseller selalu menanyakan kapan barang-barang asal Indonesia tiba, karena akan segera didistribusikan ke pengecer, dapur, dan hotel yang ditempati orang Indonesia.

Fauzi selalu menjaga pangsa pasar masyarakat Indonesia, karena mereka adalah orang-orang ramah bersikap dan santun bertutur kata. “Kalau berbicara dengan mereka seperti berada di kampung saya, Tegal,” katanya.

Setiap tahun dia setidaknya empat kali mengunjungi Indonesia. Dalam kesibukan yang padat dia mencoba meluangkan waktu bertemu keluarga di sana. “Saya sering mecari-cari alasan agar bisa ke Indonesia. Di sana bisa berkumpul dan mencari produk yang bisa saya bawa dan pasarkan di Arab Saudi,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement