Ahad 14 Jun 2020 07:56 WIB

Riyadh Putuskan Pelaksanaan Haji 2020 dalam Pekan Ini

Arab Saudi diberitakan sedang mempertimbangkan melakukan pembatalan haji 2020

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Christiyaningsih
Arab Saudi diberitakan sedang mempertimbangkan melakukan pembatalan haji 2020. Ilustrasi.
Foto: EPA
Arab Saudi diberitakan sedang mempertimbangkan melakukan pembatalan haji 2020. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH - Arab Saudi diberitakan sedang mempertimbangkan melakukan pembatalan pelaksanaan ibadah haji tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Ibadah haji melibatkan perjalanan menuju kota suci Makkah di Arab Saudi. Hal ini merupakan ritual wajib bagi semua Muslim yang taat, serta mampu melakukan perjalanan setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Pelaksanaan haji merupakan salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia. Setiap tahunnya, ibadah ini melibatkan lebih dari dua juta orang dari seluruh dunia.

Baca Juga

Dilansir AhlulBayt News Agency (ABNA), setelah penundaan acara besar lainnya seperti Olimpiade Tokyo 2020, pejabat Saudi menghadapi tekanan. Banyak yang meminta membatalkan ibadah haji tahun ini untuk membantu mengekang penyebaran virus Covid-19.

"Para pejabat mempertimbangkan skenario yang berbeda dan keputusan akan dibuat dalam satu pekan," ujar seorang pejabat senior dari Kementerian Haji dan Umrah Saudi kepada surat kabar Financial Times yang dikutip ABNA, Ahad (14/6).

Ibadah haji tahun ini seharusnya berlangsung dari 29 Juli hingga 4 Agustus. Tetapi, hingga saat ini Kerajaan Arab Saudi belum mencabut larangan perjalanan internasional yang diterapkan pada 20 Mei.

Beberapa negara pun akhirnya mengeluarkan keputusan terkait haji di tengah ketidakpastian ini. Seperti Indonesia, negara lain mengatakan tidak akan mengirim jamaah haji tahun ini.

Berdasarkan laporan yang ada, Kerajaan Saudi mengalami lonjakan kasus positif virus Covid-19 dan kematian setelah melakukan pelonggaran atas langkah-langkah kuncian. Menurut data dari Johns Hopkins University, Arab Saudi melaporkan lebih dari 119 ribu kasus Covid-19 dikonfirmasi dan 893 korban meninggal dunia.

Adapun pembatalan haji disebut dapat memberikan tekanan ekonomi lebih lanjut pada negara yang masih terhuyung-huyung dari penurunan permintaan minyak yang ditimbulkan oleh pandemi. Mereka yang melakukan ziarah diharapkan menghasilkan 12 miliar dolar AS atau setara 170,5 triliun rupiah untuk kerajaan.

Hingga berita ini dibuat, Kementerian Haji dan Umrah Saudi tidak segera memberikan komentar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement