Muhammadiyah: Upayakan Hindari Kerumunan Saat Idul Adha

Ahad , 19 Jul 2020, 23:35 WIB Reporter :Rossi Handayani/ Redaktur : Muhammad Hafil
Muhammadiyah: Upayakan Hindari Kerumunan Saat Idul Adha. Foto: Shalat Idul Adha (ilustrasi)
Muhammadiyah: Upayakan Hindari Kerumunan Saat Idul Adha. Foto: Shalat Idul Adha (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), Agus Samsudi mengatakan, apabila suatu daerah termasuk ke dalam zona hijau dalam ketentuan pemerintah, maka diperbolehkan untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban, namun dengan tetap menghidari kerumunan.

 

Terkait

"Disarankan jangan menyembelih hewan kurban sendiri, ada tukang jagal supaya cepat, dan tidak ada kerumunan kalau dalam waktu yang singkat," kata Agus pada Ahad (19/7).

Baca Juga

Agus mengungkapkan, pada intinya dari Muhammadiyah lebih baik untuk mengganti ibadah hewan kurban, dengan memberikan sembako kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini dilakukan agar dapat menghindari kerumunan untuk mencegah penularan virus corona.

Akan tetapi, untuk masyarakat muslim yang tinggal di daerah zona hijau, mereka dapat melaksanakan penyembelihan hewan dengan menghidari kerumunan dan sesuai pada protokol kesehatan. Pada saat pemotongan, petugas dapat menggunakan face shield, dan masker.

"Jangan mengundang orang saat penyembelihan hewan, kalau bisa dagingnya dibagikan secara langsung (ke rumah). Intinya hindari kerumunan dan kalau ketemu social distancing dan pakai masker," ucap Agus.

Sebelumnya dalam Edaran PP Muhammadiyah no 06/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah Puasa Arafah, Iduladha, Kurban, dan Protokol Ibadah Kurban pada Masa Pandemi Covid-19, menyebut pandemi Covid-19 menimbulkan masalah sosial ekonomi dan meningkatnya jumlah kaum duafa.

Untuk itu disarankan agar umat Islam yang mampu untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan kurban. Pelaksanaan ibadah kurban harus memperhatikan nilai-nilai dasar (al-qiyam alasasiyyah) dan asas-asas umum (al-usul al-kulliyyah) agama Islam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini