KJRI tak Dilibatkan Persiapan Menjelang Pelaksanaan Haji

Jumat , 24 Jul 2020, 00:40 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
KJRI tak Dilibatkan Persiapan Menjelang Pelaksanaan Haji. Foto: Suasana Masjidil Haram yang sepi pada malam lailatur Qadar pada tahun 2020.
KJRI tak Dilibatkan Persiapan Menjelang Pelaksanaan Haji. Foto: Suasana Masjidil Haram yang sepi pada malam lailatur Qadar pada tahun 2020.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pelaksanaan ibadah haji 2020 yang dilaksanakan terbatas kini tinggal menghitung hari. Konsul Haji Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Endang Jumali, menyebut pihaknya tak dilibatkan oleh Arab Saudi selama proses persiapan.

 

Terkait

"Kita (KJRI) tidak dilibatkan (persiapan haji 2020). Bahkan tidak ada yang diundang untuk berhaji. Negara lain juga tidak ada. Semua yang masuk merupakan ekspatriat di bidang kesehatan," ujar Endang Jumali dalam pesan yang diterima Republika, Kamis (23/7).

Meski demikian, ia menyebut pelaksanaan haji kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Penerapan protokol kesehatan Covid-19 diterapkan dengan sangat ketat oleh Otoritas Saudi.

Beberapa kebijakan yang  wajib dipatuhi oleh jamaah haji yakni menjaga jarak sosial (social distancing), jarak thawaf antar jamaah 2 meter. Selain itu, selama melakukan thawaf jamaah haji dilarang menyentuh hajar Aswad maupun Ka'bah.

Hingga saat ini, pihak KJRI belum menerima angka pasti berapa warga Indonesia yang tinggal di Saudi dan mendapat izin melaksanakan haji. Pihaknya masih berusaha menghubungi dan berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.

Jamaah haji yang mendapat izin merupakan mereka yang telah melakukan pendaftaran melalui situs yang telah disiapkan pada tangggal 6 hingga 10 Juli 2020. "Beberapa kriteria yang ditetapkan dalam pemilihan jamaah yakni, baru pertama kali melaksanakan haji, berusia antara 20 hinggga 50 tahun, serta bekerja pada sektor terkait penanganan Covid-19," kata dia.

Setelah terpilih, jamaah diminta patuh terhadap protokol Covid-19. Mereka juga wajib melakukan karantina mandiri sejak tanggal 19 Juli. Aktifitas jamaah dipantau melalui gelang yang telah dibagikan dan memiliki akses Sistem Pemosisi Global (GPS). Setelah melewati serangkaian proses haji, jamaah juga diwajibkan melakukan karantina mandiri.

Calon jamaah haji nantinya dimasukkan ke dalam sebuah grup WhatsApp. Satu grup berisi 15 jamaah dari berbagai negara dan didampingi petugas haji dari Arab Saudi.

"Jenis haji yang diterapkan adalah Haji Ifrad. Jamaah diperkirakan mulai begerak masuk ke Mekkah pada 4 zulhijjah atau 25 Juli 2020," lanjutnya.

Terakhir, Endang menyebut akses untuk memasuki wilayah Makkah dan Madinah sudah ditutup sejak lima hari yang lalu. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir adanya jamaah haji tak berizin. Pihak KJRI sedang berusaha melakukan koordinasi agar mendapat akses ke dua lokasi suci ini. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini