Menikmati Keindahan dan Sejuknya Taif (2)

Senin , 19 Oct 2020, 05:15 WIB Redaktur : Muhammad Hafil
Menikmati Keindahan dan Sejuknya Taif (2). Foto: Kawasan Thaif, Arab Saudi.
Menikmati Keindahan dan Sejuknya Taif (2). Foto: Kawasan Thaif, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Siwi Tri Puji B / Wartawan Republika

 

Terkait

Sentra buah-buahan dan sayur-mayur Taif ada di Al-Shafa, wilayah paling hijau di tepi barisan pegunungan Hijaz itu. Namun hampir di seluruh Taif mudah dijumpai kebun-kebun sayur dan buah.

Di Al-Shafa, tradisi agraris masyarakatnya masih terjaga. Kaum tua berbaur dengan kaum muda bersama-sama mengolah lahan mereka. Mereka mewariskan tradisi bertani dari generasi ke generasi. Hasil bumi Taif dikirim tiap hari ke Makkah dan kota-kota lain di sekitarnya.

“Tak ada biji yang tak tumbuh di Shafa,” ujar Manshour, petani setempat yang menjual sendiri delima hasil kebunnya di pinggiran Taif. Delima Taif paling terkenal di Arab Saudi. Buahnya besar, dengan isi buahnya yang merah ranum.

Beberapa tahun terakhir, produksi delima di Taif meningkat. Kata Manshour, hal ini terjadi berkat campur tangan Kerajaan yang membangun sentra budi daya tetumbuhan lokal untuk menghindarkannya dari kepunahan. “Selama pemuda Taif mau berkebun dan berladang, maka tradisi itu akan tetap terjaga,” ujarnya.

Selain terkenal sebagai sentra buah dan sayur, Taif juga populer dengan bunga mawarnya. Sejak berabad silam, kota ini berjuluk The city of roses. Bunga mawar bermekaran sepanjang musim. Penyulingan-penyulingan mawar tradisional berdiri di setiap sudut desa.

Puncak panen raya mawar adalah pada bulan April. Lebih dari 2.000 ladang mawar yang tersebar di Shafa dan Hada berubah menjadi seperti permadani raksasan berwarna merah muda. Selama lebih dari tiga abad, Taif menjadi produsen esens mawar (Rosa x Damascena trigintipetala), atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai ’itr atau attar kualitas tinggi di dunia.

Pengolahan bunga mawar telah ada sejak era Usmaniyah. Tradisi penyulingan mawar diduga dibawa pengelana Balkan pada masa kejayaan Dinasti Usmaniyah. Hal ini merujuk pada penamaan kazanlik untuk menyebut alat pengolah bunga mawar, yang berasal dari bahasa Turki yang berarti cerek pengolah mawar. Namun para petani mawar meyakini, tradisi bertanam mawar itu datang dari India.

Dulu, para petani memasarkan hasil sulingan mawar dengan mengendarai onta melintasi padang pasir ke berbagai kota di sekitarnya. Kini, para pembeli besarlah yang mendatangi mereka hingga ke sentra-sentra penyulingan skala home industry di desa-desa mawar di Taif.

Air sulingan mawar asal Taif sohor sebagai yang terbaik di dunia, mengalahkan produk penyulingan-penyulingan besar dan modern dari Turki, Bulgaria, Rusia, Cina, India, Maroko, dan Iran.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini