Keutamaan Memandang Ka'bah

Selasa , 03 Nov 2020, 17:44 WIB Redaktur : Muhammad Hafil
Keutamaan Memandang Ka'bah. Foto:  Proses penggantian kain kiswah Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Kamis (30/7).
Keutamaan Memandang Ka'bah. Foto: Proses penggantian kain kiswah Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Kamis (30/7).

IHRAM.CO.ID, Oleh Dr Syamsul Yakin MA

 

Terkait

Ketika shalat,  kaum muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk memandang Ka’bah. Allah SWT berfirman, “Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Haram.” (QS. al-Baqarah/2: 144). Dalam ayat ini yang dimaksud Masjid Haram, menurut pengarang Tafsir Jalalain, adalah Ka’bah. Namun memandang Ka’bah berpahala kendati dilakukan di luar shalat.  

Baca Juga

Pahala memandang Ka’bah adalah mendapat rahmat dari Allah SWT. Nabi SAW bersabda, “Setiap sehari semalam Allah menurunkan seratus dua puluh rahmat atas Baitullah. Enam puluh rahmat untuk yang melakukan tawaf, empat puluh untuk yang melakukan shalat, dan yang dua puluh untuk yang memandang Ka’bah.” (HR. Thabrani).

Setidaknya ada sejumlah alasan yang dapat dipahami nalar ihwal memandang Ka’bah itu berpahala. Pertama, Allah SWT berfirman,  “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran/3: 96).

Tentang hal ini Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir mempertegas bahwa seluruh nabi telah melakukan sujud kepada Allah SWT dengan menghadap Ka’bah. Ayat ini, lanjut Syaikh Nawawi Banten, menunjukkan kiblat Nabi Syis, Nabi Idris, dan Nabi Nuh juga adalah (arah) Ka’bah. Semua nabi memuliakan dan menghormati Ka’bah.

Kedua, Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim sambil berdoa. Allah SWT berirman, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2: 127).

Diceritakan ulang oleh Syaikh Nawawi Banten bahwa Nabi Ibrahim membangun ulang Ka’bah (bersama Ismail) dari lima buah bukit. Maksudnya, bebatuan yang digunakan untuk membangun Ka’bah diambil dari bukit Tursina, bukit Zaita, bukit Libanon, dan bukit al-Judi. Untuk fondasinya sendiri Nabi Ibrahim menggunakan bebatuan bukit  Harra.

Sesudah dibangun, Jibril datang sambil membawa Hajar Aswad (batu hitam) dari langit yang pada awalnya barupa batu yaqut putih yang diambil dari batu yaqut surga. Sejarah menulis perubahan warna Hajar Aswad. Ketika itu banyak wanita yang dalam keadaan haid berdatangan mengusapkan tangan sehingga Hajar Aswad jadi hitam hingga kini.

Doa beliau diperpanjang hingga ayat-ayat berikutnya, “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami.” (QS. al-Baqarah/2: 128).

Begitu pula, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Alquran) dan al-Hikmah (al-Sunah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahakuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah/2: 128).

Semoga kita bisa memandang Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat ketika shalat. Semua kaum muslim dapat dipastikan berhasrat berat untuk dapat shalat di Masjid Haram, thawaf mengelilingi Ka’bah, minum air Zamzam, mencium Hajar Aswad, dan memandang Ka’bah dari dekat dengan penuh rasa haru.

Inilah doa saat memandang Ka’bah, “Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang berumrah padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.”

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini