Masjid Jadi Tempat Babi Ditemukan Lagi di Pendudukan Armenia

Ahad , 08 Nov 2020, 08:20 WIB Reporter :Anadolu/ Redaktur : Elba Damhuri
Seekor babi tampak di dalam bangunan yang bekas lokasi masjid desa Mamar yang dibangun pada abad 18. Gambar diambil dari tangkapan layar video yang dibagikan Kepada Departemen Kebijakan Luar Negeri Azerbaijan, Hikmet Hajiyev. (File foto - Anadolu Agency)
Seekor babi tampak di dalam bangunan yang bekas lokasi masjid desa Mamar yang dibangun pada abad 18. Gambar diambil dari tangkapan layar video yang dibagikan Kepada Departemen Kebijakan Luar Negeri Azerbaijan, Hikmet Hajiyev. (File foto - Anadolu Agency)

IHRAM.CO.ID, ANKARA -- Seorang pejabat senior Azerbaijan pada Jumat membagikan rekaman masjid abad ke-18 yang dirusak di bawah pendudukan Armenia. Wilayah Gubadli, tempat masjid itu berada, dibebaskan oleh tentara Azerbaijan pada 30 Oktober.

 

Terkait

"Masjid Abad ke-18 di Desa Mamar Azerbaijan yang berhasil dibebaskan dari pasukan Armenia hancur total ... diubah menjadi kandang babi oleh Armenia sebagai penghinaan pada masa pendudukan desa Mamar di wilayah Gubadly," kata Hikmet Hajiyev, penasihat presiden Azerbaijan, di Twitter.

Baca Juga

Seperti dilaporkan Anadolu, Hajiyev meminta UNESCO, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Dunia Islam (ICESCO) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil tindakan terhadap Armenia dan "mengutuk secara serius tindakan biadab ini".

Sebelumnya, sebuah video yang direkam dengan ponsel menunjukkan masjid bersejarah lainnya di daerah Zangilan, yang juga di bawah pendudukan Armenia, diubah menjadi kandang babi.

Daerah itu telah dibebaskan oleh tentara Azerbaijan pada 20 Oktober.

Konflik Karabakh

Hubungan antara dua bekas republik Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas.

Empat resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua dari Majelis Umum PBB, serta organisasi internasional, menuntut penarikan pasukan Armenia dari wilayah pendudukan.

Secara total, sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan - termasuk Nagorno-Karabakh dan tujuh wilayah yang berdekatan - berada di bawah pendudukan Armenia secara ilegal selama hampir tiga dekade.

Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan AS - dibentuk pada tahun 1992 untuk menemukan solusi damai untuk konflik tersebut, tetapi tidak berhasil.

Gencatan senjata, bagaimanapun, disetujui pada tahun 1994. Sejak bentrokan meletus pada 27 September, Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan, bahkan melanggar dua gencatan senjata kemanusiaan dalam dua pekan terakhir.

Kekuatan dunia, termasuk Rusia, Prancis, dan AS, menyerukan gencatan senjata yang baru dan bertahan lama.

Turki, sementara itu, mendukung hak Baku untuk membela diri dan menuntut penarikan pasukan pendudukan Armenia. 

sumber : Anadolu/Republika.co.id
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini