Peran Masjid Lautze dalam Merangkul Mualaf

Ahad , 14 Feb 2021, 18:57 WIB Reporter :Imas Damayanti/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Peran Masjid Lautze dalam Merangkul Mualaf. Foto:   Jamaah memasuki area Masjid Lautze 2  menjelang pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Jl Tamblong, Bandung, Jumat (16/10). Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar pertama di Kota Bandung dibuka kembali masjid ini kembali melayani shalat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan.Selain ibadah rutin, masjid ini memberikan bimbingan rutin kepada mualaf yang kebanyakan berasal dari etnis tionghoa.
Peran Masjid Lautze dalam Merangkul Mualaf. Foto: Jamaah memasuki area Masjid Lautze 2 menjelang pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Jl Tamblong, Bandung, Jumat (16/10). Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar pertama di Kota Bandung dibuka kembali masjid ini kembali melayani shalat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan.Selain ibadah rutin, masjid ini memberikan bimbingan rutin kepada mualaf yang kebanyakan berasal dari etnis tionghoa.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA – Yayasan Haji Karim Oei dan Masjid Lautze boleh dibilang menjadi tonggak bersejarah dalam membina dan merangkul kalangan Cina yang ingin mendekatkan diri terhadap Islam. Kiprah yayasan ini memiliki andil besar dalam bidang pembinaan, pendampingan, serta edukasi kepada komunitas Cina yang ada di Indonesia.

 

Terkait

Baca Juga

“Ini kan kami memang identik sekali dengan etnis Cina. Jadi sudah menjadi panggilan tersendiri buat kami berikan pendampingan dan informasi-informasi terkait Islam kepada yang berkenan,” kata Ketua Yayasan Haji Karim Oei/Masjid Lautze Ali Karim saat dihubungi Republika, Jumat (12/2).

Yayasan Haji Karim Oei yang terinspirasi dari kiprah Haji Abdul Karim Oei Tjeng Hien ini berdiri sejak 1988. Kiprah Haji Abdul Karim Oei dalam melakukan pembinaan dakwah secara sosial dan ekonomi pun dapat dilihat dari organisasi yang didirikannya kala itu, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Tokoh Muhammadiyah yang dikenal begitu akrab dengan Buya Hamka dan Presiden Soekarno itu pun tak heran jika memberikan banyak inspirasi terhadap generasi penerusnya. Semangat mendakwahkan Islam secara baik kental sekali dari Haji Abdul Karim Oei, sehingga tak heran kiprah yayasan yang didirikan atas inisiatif ketokohannya pun nampak terlihat.

Ali menceritakan tentang bagaimana makna dakwah yang rahmatan lil-alamin. Memperkenalkan Islam kepada mualaf ataupun orang yang memiliki keinginan untuk masuk Islam bukan harus dilakukan dengan membandingkan agama-agama lainnya dengan Islam. Lantaran telah banyak saat ini pendakwah yang beretnis Cina yang berdakwah dengan pendekatan-pendekatan perbandingan agama, Ali tak sependapat jika mendakwahkan Islam dengan cara tersebut.

Meski demikian, pihaknya pun menaruh hormat kepada mereka yang memilih cara itu. Namun baginya, Islam adalah agama yang kaffah yang telah sempurna. Sehingga tak elok rasanya bagi dia membandingkan agama Islam dengan agama-agama para mualaf sebelumnya.

“Umat Islam itu sudah percaya bahwa agama yang diturunkan Allah ini adalah agama yang sempurna. Lalu kalau sudah sempurna, untuk apa kita banding-bandingkan (dengan agama lain)?” kata dia.

Dakwah dengan menyerukan pesan kebaikan dapat dilakukan dengan cara yang lebih kreatif. Baik melalui gerakan sosial, ekonomi, maupun gerakan-gerakan lainnya yang dapat menghadirkan nilai manfaat bagi orang banyak.

Pertumbuhan mualaf Cina di Inonesia dirasakan betul kehadirannya oleh Pembina Masjid Lautze 2 Bandung, Hernawan Mahfudz. Sejak 3-4 tahun terakhir Masjid Lautze 2 didirikan, setiap pekannya selalu ada masyarakat yang hendak dibina untuk menjadi mualaf.

“Jadi kalau di (Masjid) Lautze justru niat kita adalah konteknsnya untuk mengakomodir (masyarakat) Cina-Cina yang kepingin jadi Muslim dan Muslimah di Jawa Barat, dan itu butuh tempat, kan? Knp butuh tempat? Karena mereka tersebar di mana-mana. Kalau nggak diakomodir, kasihan,” kata Hernawan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini