Jumat 26 Mar 2021 17:31 WIB

Santri Didorong Jadi Motor Penggerak Kemandirian Ekonomi

Santri punya tanggung jawab untuk bergerak dalam bidang keummatan

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani
Pondok pesantren (Ponpes) Nurul Jadid Probolinggo mengadakan Diskusi Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Santri dan Pesantren.
Foto: Dok. Ponpes Nurul Jadid
Pondok pesantren (Ponpes) Nurul Jadid Probolinggo mengadakan Diskusi Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Santri dan Pesantren.

IHRAM.CO.ID, PROBOLINGGO -- Pondok pesantren (Ponpes) Nurul Jadid Probolinggo mengadakan "Diskusi Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Santri dan Pesantren". Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Pesantren I Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Kamis siang (25/3).

Ketua Dewan Pembina Santri Millenial Centre (Simac), Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin atau Gus Syauqi, menjelaskan, masyarakat Indonesia tidak akan sejahtera selagi belum mampu membangun ekonominya. Situasi ini menjadi salah satu tanggung jawab santri untuk bergerak dalam bidang keummatan.

"Kalau kita bangun roda ekonomi kecil-kecil, membuat sumbu yang kecil ini menjadi sebuah kekuatan besar, beban apapun di atasnya Insya Allah akan terbawa dengan mudah," ucapnya dalam pesan pers yang diterima Republika, Jumat (26/3).

Syauqi mengaku sering menyampaikan sesuatu yang menjadi jejak dan langkah para pendahulu. Yakni, jama’ah lil jam’iyah dan jam’iyah lil jama’ah firqotan waharakatan linahdlatil jami’ah. Artinya, orang itu harus membuat satu wadah untuk bersama-sama dan tidak bisa sendiri-sendiri, baik secara pikiran maupun gerakan untuk membangun kebangkitan bersama.

Menurut Syauqi, eksistensi pesantren dan santri bukan hanya gerakannya. Namun hasilnya akan terlihat dan perannya benar-benar akan ditunggu. Sebab, santri itu memiliki pondasi yang kuat.

"Santri itu harus kaya sehingga bisa mengkayakan orang lain, jangan kayak dukun, bagaimana dukun katanya bisa kaya tapi tidak kaya-kaya,” jelasnya.

Di hadapan ribuan undangan yang hadir, Gus Syauqi menegaskan, santri tidak hanya bertugas untuk mendorong tetapi ajuga memberikan motivasi, inspirasi, penggerak dan menjadi motor serta menjadi penyambung kekuatan ekonomi sendiri. Hal ini karena kemandirian yang tidak bersinergi akan punah dengan sendirinya, begitu juga sebaliknya.

Gus Syauqi mengaku sering mengistilahkan pengendalian ekonomi ummat sebagai cara membangun kekuatan ekonomi. Membangun kekuatan itu bukan hanya berkaitan dengan produk tapi juga manajemen yang profesional.

Sementara itu, Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kyai Haji Abdul Hamid Wahid menjelaskan pesantren merupakan wadah para kader ditempa dengan sasaran antara tafaqquh fiddin dan sasaran ujung melakukan peran-peran kemasyarakatan. Kemudian juga melakukan peran dalam perjuangan untuk perbaikan di masyarakat

Pesantren saat ini juga harus lebih mengaktualisasikan bukan hanya sekedar dalam pendidikan dan pengajaran tetapi juga beberapa fungsi lainnya. Yakni, seperti fungsi pengkaderan, pelayanan pada masyarakat dan fungsi dakwah. "Termasuk di dalamnya yang sangat relevan adalah ekonomi,” ungkap dia.

Untuk diketahui, Nahdlatut Tujjar dalam sejarah pesantren dapat dilihat di dalam masa berdirinya NU satu dekade 1911 akhir. Saat itu Kyai Haji Wahab Chasbullah telah bersama-sama ikhtiar untuk membangkitkan kesadaran masyarakat. Masyarakat harus berubah demi menyongsong perkembangan zaman melalui taswirul afkar. Kemudian dia juga melakukan Gerakan Nahdlatul Wathan sebagai kebangkitan cinta tanah air dan Nahdlatut Tujjar sebagai kebangkitan para pelaku usaha serta bisnis

"Saya kira sangat relevan dan penting di era melenial. Semua orang yakin bahwa 2045 bagi Indonesia adalah tahun kebangkitan sehingga kita menyebutnya 'bersama-sama dengan Indonesia emas 2045'," kata dia menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement