Jumat 11 Jun 2021 11:27 WIB

Kesetaraan Palsu Antara AS, Israel, Hamas,Taliban Digugat

Anggota kongres Muslim dituduh 'menggambar kesetaraan palsu' antara AS, Israel, Hamas

Muslimah Anggota Konggres AS, Ilhan Omar.
Foto: Google.com
Muslimah Anggota Konggres AS, Ilhan Omar.

IHRAM.CO.ID, -- Para pemimpin Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat kini tengah berusaha untuk memadamkan kehebohan di antara para legislator. Hal ini terjadi akibat pada hari Kamis atas pertanyaan yang diajukan anggota parlemen Ilhan Omar. Dia kala itu di depan konggres mempertanyakan mengenai penentangan AS terhadap penyelidikan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang di Israel dan Afghanistan.

Ilhan Omar, satu dari hanya tiga anggota Muslim di DPR AS, saat itu telah bertanya dalam sidang pada 7 Juni lalu mengenai di mana korban kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel dan Hamas harus pergi untuk mencari keadilan jika AS menentang tindakan di ICC.

Pertanyaan Omar ini adalah pertanyaan yang adil tapi tajam. Saat itu Menteri Luar Negeri Antony Blinken menjawab bahwa pengadilan di AS dan Israel dapat menyediakan forum peradilan yang memadai untuk klaim tersebut. 

Namun, akibat pertanyaan Omar itu kemudian memicu kecaman oleh beberapa rekan Demokratnya sendiri dan teriakan "anti-Semitisme" dari Partai Republik. Kejadian ini bagi Omar merupakan peristiwa terbaru dia yang  di tengah babak baru ancaman pembunuhan yang dikeluarkan ke kantornya.

 “Menyamakan Amerika Serikat dan Israel dengan Hamas dan Taliban sama ofensifnya dengan sesatnya,” kata 11 anggota parlemen Demokrat yang Yahudi dalam sebuah pernyataan dua hari setelah Omar mengajukan pertanyaannya kepada Blinken tersebut seperti dilansir Al Jazeera.

Mengomentari hujatan kepadanya, Omar kemudian menolak serya menyebut bila pernyataan kelompok Demokrat itu justru “memalukan”. “Kiasan Islamofobia dalam pernyataan mereka ofensif. Pelecehan dan pembungkaman terus-menerus dari para penandatangan surat ini tak tertahankan”, balas Omar dalam cuitannya di tweeter.

Dan Omar kemudian membagikan contoh jenis ancaman pembunuhan yang diterima kantornya setiap kali dia menjadi sasaran tuduhan seperti yang dia terima selama ini.

Alhasil, para pemimpin DPR dari Partai Demokrat melompat ke dalam keributan atau kontroversi itu. Mereka berharap untuk menghindari kebakaran besar seperti yang melanda pernah Demokrat pada tahun 2019. Kala itu DPR AS memilih untuk mengutuk diskriminasi anti-Semitisme dan anti-Muslim setelah Omar menyarankan pendukung AS Israel memiliki kesetiaan ganda.

“Kritik yang sah terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel dilindungi oleh nilai-nilai kebebasan berbicara dan debat demokratis,” tegas enam pemimpin Demokrat DPR, termasuk Ketua Nancy Pelosi, mengatakan dalam sebuah pernyataan Kamis.

“Tetapi menarik kesetaraan palsu antara negara-negara demokrasi seperti AS dan Israel dan kelompok-kelompok yang terlibat dalam terorisme seperti Hamas dan Taliban menimbulkan prasangka dan merusak kemajuan,” kata kelompok itu selanjutnya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement