Ahad 20 Jun 2021 18:54 WIB

Ritual Haji Pertemuan Ruhani dan Jasmani dengan Allah SWT

Ritual Haji Pertemuan Ruhani dan Jasmani dengan Allah.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Ritual Haji Pertemuan Ruhani dan Jasmani dengan Allah SWT. Foto: ilustrasi Jamaah Haji Nigeria
Foto: EPA-EFE/MIKE NELSON
Ritual Haji Pertemuan Ruhani dan Jasmani dengan Allah SWT. Foto: ilustrasi Jamaah Haji Nigeria

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Banyak hadits yang menjelaskan bahwa ibadah haji dan jihad fi sabilillah merupakan dua amal ibadah yang utama dan bernilai tinggi disisi Allah SWT. Banyak ulama yang memasukkan hadits-hadits tentang keutamaan amal yang di dalamnya terdapat penyebutan haji mabrur sebagai bagian dari Afdhoul amal. 

"Namun, bertumpu pada amal saja tidak akan menjamin keselamatan di akhirat," kata Dr K.H Asep Zaenal Ausop, M.Ag dalam bukunya 'Haji: Falsafah, Syariah dan Rihlah Meraih Haji Mambrur yang Cumlaude'.

Baca Juga

Mendengar penegasan itu, para sahabat berkata, "Bagaimana dengan anda, Ya Rasulullah?" Rasulullah SAW menjawab, "Saya pun demikian. Tetapi, Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya." 

Berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ra dan diriwayatkan Imam Muslim ini menunjukkan bahwa amal hanyalah alat dan kerangka yang mati. Amal baru memiliki makna jika ruhnya keikhlasan dan metodenya benar.

"Sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku oleh Allah dan Rasul-Nya," katanya.

KH Asep mengatakan, ibadah haji memperlihatkan sebuah sarana pendakian yang unik, di dalam ritual Haji terdapat pertemuan dimensi rohani dan jasmani. Tujuan utama dari pertemuan itu yakni menuju posisi di hadapan Allah, dan posisi itulah yang disebut mabrur secara kodrati.

"Manusia menginginkan kesejatian dan kesempurnaan dalam segala aspek kehidupan, termasuk ibadah," 

Dalam pandangan ini KH Asep mengutip pendapat Paul G.Stoltz, bahwa kegigihan untuk mencapai kesempurnaan sejatinya adalah adversity quotient. Di dalamnya terdapat kecerdasan berupa kegigihan untuk mengatasi segala rintangan demi mendaki tangga kesempurnaan yang diinginkan.

"Hidup ini Ini tak ubahnya seperti mendaki gunung. Kesuksesan atau kepuasan diperoleh melalui upaya yang tak kenal lelah untuk terus mendaki, walau terkadang langkah demi langkah yang ditapaki terasa lambat dan menyakitkan." 

Sementara itu menurut C. Ramli  Anwa adversity quetion saja belum cukup. Dia membutuhkan rasa kendali dengan kekuatan Tuhan, di dalamnya ada suasana batin menuju Allah yang membuat seseorang selalu siap untuk segera bangkit dari keterpurukan yang paling dalam sekalipun. 

"Dalam konteks perwujudan meraih Haji Mabrur yang sehingga memiliki adversity question itulah, diperlukan pemahaman bagaimana meraih haji mambrur," katanya

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement