KH Chudlori, Ulama Rendah Hati dan Bersahaja (I)

Senin , 30 Aug 2021, 21:07 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Ilustrasi Santri Mandiri
Ilustrasi Santri Mandiri

Saat itu, kedua orang tuanya kerap mengirimkan bekal sebesar Rp 750 per bulan kepadanya sebagai bekal. Jumlah tersebut bisa dibilang cukup banyak pada masa itu. Namun, santri yang gigih dalam menuntut ilmu itu hanya menghabiskan rata-rata Rp 150 per bulan. Sisanya kemudian dikembalikan kepada ayah dan ibunya.

 

Terkait

Sebab, Chudlori di Tebuireng mengamalkan prinsip kesederhanaan. Ia biasa memakan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut.

Mungkin orang-orang akan mengiranya berlaku terlalu hemat untuk dirinya sendiri. Padahal, amalan itu dilakukannya juga dalam rangka menempa jiwa atau riyadhah. Memang kebanyakan para santri setempat mela kukannya sebagai kebiasaan sehari-hari. 

Semasa di Tebuireng, Chudlori membuat sendiri kotak belajar khusus dari papan tipis. Kotak tersebut ditempatkannya di antara loteng dan atap. Jika ingin menghafal atau memahami materi pelajaran, pemuda ini akan duduk di atas kotak itu.

Dengan demikian, dirinya bisa berkonsentrasi dengan baik. Belajar dengan cara itu dilakukannya setiap hari hingga tengah malam, menjelang waktu tidur, dan shalat Tahajud.