KH Chudlori, Ulama Rendah Hati dan Bersahaja (I)

Senin , 30 Aug 2021, 21:07 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Ilustrasi Santri Mandiri
Ilustrasi Santri Mandiri

Di Tebuireng ia belajar dengan tekun. Hampir setiap hari ia membaca kitab-kitab kuning hingga tengah malam. Jika tertidur sebelum tengah malam, ia pun akan menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur. Demikianlah caranya dalam melatih dirinya sendiri agar disiplin.

 

Terkait

Setelah dari Tebuireng, Chudlori kemudian pindah ke Pondok Bendo, Pare, Kediri, pada 1933. Di sana, ia belajar pada KH Chozin Muhajir, terutama dalam bidang-bidang keilmuan fikih dan tasawuf. Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali dikajinya semasa nyantri di Pare. 

Empat tahun berikutnya, ia mengaji di Pesantren Sedayu. Durasi tujuh bulan lamanya dikhususkan untuk belajar ilmu membaca (qiraat) Alquran. Setelah meraih hasil yang optimal, dirinya pun meneruskan perjalanan lagi pada 1937. Kali ini, tujuannya adalah Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah. Lembaga tersebut diasuh KH Ma'shum dan KH Baidlowi.

Kiai Baidlowi sangat terkesan dengan ketekunan santrinya itu. Bahkan, Chudlori sering diminta untuk menjadi pengajar-pengganti (badal) kepada para santri lainnya. Inilah awal mula dirinya berperan sebagai penceramah. Mengamalkan ilmu-ilmu agama untuk membimbing umat dan masyarakat.

Bersambung..