KH Chudlori, Ulama Rendah Hati dan Bersahaja (II)

Senin , 30 Aug 2021, 21:15 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Pesantren API Tegalrejo
Pesantren API Tegalrejo

Tak sedikit warga setempat yang melakukan perbuatan-perbuatan syirik meskipun mendaku diri sebagai Muslimin. Hadirnya API Tegalrejo diharapkan dapat mengikis dan menghilangkan sama sekali tradisi yang bertentangan dengan syariat itu.

 

Terkait

Memang awalnya masyarakat umum Tegalrejo bersikap acuh tak acuh atas pembangunan Pondok Pesantren API. Mereka yang menganut kejawen juga tak jarang membuat kericuhan. Bahkan, akibatnya kegiatan belajar-mengajar di pesantren tersebut acapkali terhenti.

Bagaimanapun, Kiai Chudlori tidak memakai cara-cara kekerasan, verbal maupun tindakan, terhadap mereka. Sebagai seorang mubaligh yang digembleng bertahun-tahun di berbagai pondok pesantren, ia tetap tegar dalam menghadapi tantangan.

Pada akhirnya, mayoritas warga menerima dengan tangan terbuka hadirnya Pesantren API Tegalrejo. Bahkan, semakin banyak anak-anak mereka yang dididik sang kiai di sana. Pembentukan kurikulum yang diterapkan di sana membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menjadi lengkap.

Salah satu materi yang selalu diajarkan kepada para santri setempat ialah tasawuf, baik secara konsep maupun amalan-amalan. Bahkan, bisa dikatakan bahwa itulah inti kurikulum Pesantren API Tegalrejo. Alhasil, orang-orang mengenalnya sebagai salah satu pesantren tasawuf di Jawa Tengah.