Ketika Ibnu Batutah Menangis karena Kesendiriannya

Rabu , 01 Sep 2021, 02:24 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Agung Sasongko
Perjalanan Ibnu Batuta, Ilustrasi
Perjalanan Ibnu Batuta, Ilustrasi

Pada hari yang sangat cerah di bulan Juni 1325, Ibnu Batutah saat berusia 21 tahun memutuskan untuk berpetualang. Dia mengikat sandalnya, memeriksa bahwa dia memiliki semua yang dia butuhkan, dan mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga dan teman.

 

Terkait

Ia berangkat haji ke Makkah. Ini perjalanan panjang dan sulit dari ujung barat laut Afrika. Biasanya memakan waktu berbulan-bulan atau beberapa tahun, bukan puluhan tahun. Ibnu Batutah pergi sendirian. Ini diketahui dari catatan yang ditulisnya. Ia menulis begini:

"Tidak memiliki teman seperjalanan sebagaimana persahabatan yang dapat menemukan keceriaan atau karavan di mana aku bisa ikut bergabung dalam pestanya. Tetapi aku bergejolak karena ada dorongan yang menguasai diriku dan keinginan yang telah lama terpendam dalam dadaku untuk mengunjungi tempat-tempat suci yang termasyhur. Aku kuatkan tekad untuk meninggalkan semua yang kusayangi dan meninggalkan rumahku seperti burung-burung meninggalkan sarang mereka. Orang tuaku masih terikat dalam ikatan kehidupan, tentu sangat berat bagiku untuk berpisah dari mereka. Aku dan mereka sedih karena perpisahan ini."

Perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji relatif mudah tentunya. Namun, entah bagaimana, perjalanan tersebut menjadi perjalanan panjang selama 29 tahun. Juga menjadi perjalanan 75 ribu mil yang melintasi Afrika, Timur Tengah, anak benua India, dan Timur yang jauh.