Ketika Ibnu Batutah Menangis karena Kesendiriannya

Rabu , 01 Sep 2021, 02:24 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Agung Sasongko
Perjalanan Ibnu Batuta, Ilustrasi
Perjalanan Ibnu Batuta, Ilustrasi

Pada September 1326, kafilah Ibnu Batutah berangkat ke selatan dari Damaskus menuju Arabia, melewati kastil Karak yang perkasa. Ini salah satu benteng yang paling menakjubkan, tidak dapat diakses dan terkenal, yang masih berdiri sampai sekarang.

 

Terkait

Suatu ketika di semenanjung Arab, dia menceritakan bahwa kafilah itu mendorong dengan cepat siang dan malam, karena takut akan hutan belantara ini. Lalu setelah empat hari di Masjid Nabawi di Madinah, Ibnu Batutah dan rekan-rekan peziarahnya akhirnya mencapai Makkah dengan hati yang penuh kegembiraan karena mencapai tujuan harapan mereka. Ini menjadi pengalaman yang mengangkat secara spiritual. 

Namun setelah ziarahnya selesai, pada pertengahan November, tidak ada pertanyaan yang hinggap pada diri Ibnu Batutah apakah ia harus pulang ke kampung halaman. Sebaliknya, Ibnu Batutah mengarahkan pandangannya untuk berangkat ke utara.

Pada 1329–30, ia berlayar menyusuri Laut Merah, mengunjungi Yaman sebelum melanjutkan ke selatan di sepanjang pantai timur Afrika, untuk mengunjungi Mogadishu dan Mombasa. Ia berhasil menghindari bajak laut dan rencana pemandu yang tidak bermoral untuk membunuhnya. Rombongannya kemudian berlayar ke utara lagi, mengitari Oman dan melintasi Teluk Hormuz sebelum melintasi jazirah Arab dari Bahrain ke Mekah.

Dari tahun 1330, ia menelusuri kembali jejaknya ke utara dan melanjutkan ke Anatolia, aspek-aspek yang membuatnya senang dan jijik. Di satu kota ia mengetahui bahwa mereka membeli gadis-gadis budak Yunani yang cantik dan memasukkan mereka ke dalam pelacuran.

"Setiap gadis harus membayar secara tetap kepada tuannya. Saya mendengar dikatakan bahwa gadis-gadis pergi ke pemandian bersama para pria, dan siapa pun yang ingin menikmati kebejatan moral melakukannya di pemandian dan tidak ada yang mencoba menghentikannya," tulis Ibnu Batutah.