Qatar Bekerja Sama dengan Taliban Buka Bandara Kabul

Jumat , 03 Sep 2021, 05:03 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Pejuang pasukan khusus Taliban berkumpul di dalam Bandara Internasional Hamid Karzai setelah penarikan militer AS, di Kabul, Afghanistan, Selasa, 31 Agustus 2021. Taliban menguasai penuh bandara Kabul pada Selasa, setelah pesawat AS terakhir meninggalkan landasan pacu , menandai berakhirnya perang terpanjang Amerika.
Pejuang pasukan khusus Taliban berkumpul di dalam Bandara Internasional Hamid Karzai setelah penarikan militer AS, di Kabul, Afghanistan, Selasa, 31 Agustus 2021. Taliban menguasai penuh bandara Kabul pada Selasa, setelah pesawat AS terakhir meninggalkan landasan pacu , menandai berakhirnya perang terpanjang Amerika.

IHRAM.CO.ID, Qatar telah bekerja dengan Taliban untuk membuka kembali bandara Kabul sesegera mungkin. Pernyataan ini dikatakan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Dia menambahkan bahwa negara Teluk itu juga sedang mencari bantuan teknis dari Turki.

 

Terkait

"Kami bekerja sangat keras (dan) kami tetap berharap bahwa kami akan dapat mengoperasikannya sesegera mungkin. Mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan kami akan mendengar kabar baik," kata Al Thani pada hari Kamis saat konferensi pers dengan menteri luar negeri Inggris Dominic Raab di Doha seperti dilansir Al Jazeera.

Menteri luar negeri Inggris mengatakan memang ada kebutuhan untuk terlibat dengan Taliban di Afghanistan. Namun, Inggris tidak memiliki rencana segera untuk mengakui pemerintahnya. Raab mengatakan bahwa Inggris tidak akan mengakui Taliban kapan saja di masa mendatang.

Raab pun menambahkan bahwa dia akan menilai kelompok itu dengan tindakannya, bukan dengan kata-kata.

Bandara Kabul rusak saat Amerika Serikat dan sekutunya mengevakuasi lebih dari 100.000 orang, dengan pasukan AS terakhir berangkat pada 31 Agustus – batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Joe Biden. Taliban merebut kekuasaan pada 15 Agustus dalam serangan militer yang mencengangkan yang memicu runtuhnya pemerintahan Kabul yang didukung Barat. Kelompok itu juga merayakan penarikan pasukan asing pimpinan AS setelah 20 tahun perang.

Dan kini saat Taliban bersiap mengumumkan pembentukan pemerintahan baru, krisis kemanusiaan mengancam. PBB memperingatkan bahwa satu dari tiga warga Afghanistan akan kelaparan. Al Jazeera telah mengetahui bahwa harga pangan di Afghanistan telah meningkat sekitar 50 persen, dan bensin sebanyak 75 persen, dalam beberapa hari terakhir.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini