Pasca 9/11 Muslim AS Jadi Sasaran Penangkapan

Selasa , 05 Oct 2021, 07:23 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Serangan ke menara kembar WTC di New York 11 September 2001
Serangan ke menara kembar WTC di New York 11 September 2001

IHRAM.CO.ID, NEW YORK – Setelah serangan 9/11, suasana kota di sekitar New York menjadi hening. Keberadaan orang-orang Asia Selatan dan Arab mulai menghilang. Lebih dari 1.000 orang ditangkap dalam penyisiran seluruh wilayah. Mereka ditahan selama berbulan-bulan dengan minim kontak dari luar.

 

Terkait

Direktur Eksekutif Kelompok Advokasi Imigran Desis Rising Up and Moving Fahd Ahmed mengatakan setelah serangan, kelompoknya mulai mendapat laporan yang menangkap anggota keluarga.

“Ada orang-orang yang baru saja menghilang dari komunitas kami dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka atau ke mana mereka pergi,” kata Ahmed. Menurut laporan Komisi 9/11, mereka ditangkap sebagai tahanan kepentingan khusus.

Meskipun banyak dari mereka yang ditahan karena telah datang ke AS secara ilegal atau visa tinggal lama, kecil kemungkinan mereka akan dikejar jika bukan karena penyelidikan serangan. Staf Pengacara Senior Pusat Hak Konstitusional Rachel Meroopol mengatakan penangkapan dalam bentuk pengumpulan Muslim dan menganggap akan ada teroris di antara mereka adalah rasisme murni dan xenofobia.

Dia mengajukan gugatan pada tahun 2002 atas nama beberapa pria dan terus berjuang untuk penggugat tambahan sampai hari ini. Penggugat asli dalam gugatan itu adalah Yasser Ebrahim. Dia telah berada di AS sejak 1992 dan menikmati hidupnya.

Pada 30 September 2001, agen federal muncul di depan pintu rumahnya di Brooklyn, New York. Ebrahim mengira masalah keimigrasian akan segera diluruskan atau dia akan dideportasi. Namaun, dia tetap ditahan sampai Juni berikutnya.

Selama tiga bulan, keluarganya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Selain minimnya akses komunikasi, beberapa petugas melakukan kekerasan fisik dan verbal. “Berbulan-bulan saya tidak melihat saudara saya. Ada perasaan, saya akan berada di sini selamanya,” kata Ebrahim.

Ketika Ebrahim akhirnya diizinkan pergi, dia diberi pakaian dengan ukuran terlalu besar dan ditempatkan di pesawat tanpa diberitahu tujuannya. Pesawat itu pergi ke Yunani dan setelah menghabiskan satu malam di bawah pengawasan otoritas Yunani, dia naik penerbangan ke Kairo. Pada tahun 2009 ia dan empat orang lainnya, termasuk saudara laki-lakinya mencapai penyelesaian 1,26 juta dolar Amerika atas gugatan tersebut.

Dilansir Daily Sabah, Selasa (5/10), Profesor Hukum di Universitas Stanford Shirin Sinnar mengatakan tindakan ekstrem yang diambil setelah 9/11 telah dinormalisasi hingga saat ini. “Mereka baru saja menjadi bagian dari jenis pengawasan dan perampasan hak dan profil yang kami harapkan untuk dilihat,” ujar dia.

Jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh The Associated Press (AP)-NORC Center for Public Affairs Research menunjukkan mayoritas orang Amerika 54 persen masih percaya terkadang perlu mengorbankan hak dan kebebasan untuk memerangi terorisme.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini