Selasa 12 Oct 2021 05:45 WIB

Tahun Kesepuluh Kenabian Rasulullah yang Penuh Duka Cita

Disebut tahun duka cita lantaran beratnya penderitaan yang Rasulullah alami.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Ilustrasi Rasulullah
Foto: Pixabay
Ilustrasi Rasulullah

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Tahun kesepuluh kenabian Rasulullah dikenal dengan sebutan Tahun Duka Cita. Nabi Muhammad Saw menyebut tahun ini sebagai 'am al-huzn atau tahun duka cita lantaran beratnya penderitaan yang Rasulullah alami.

Di tahun ini, istrinya Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib meninggal. Ibnu Sa\'d menuturkan dalam Thabaqatnya, antara kematian Khadijah dan Abu Thalib hanya selisih satu bulan lima hari.

Seperti yang disebut Ibnu Hasyam, Khadijah merupakan tokoh pertama yang mengakui kenabian Rasulullah. Kerap kali, Rasulullah mengadukan persoalannya kepada Khadijah. Kemudian Khadijah selalu menghibur dia dan membesarkan hatinya. Sementara Abu Thalib merupakan pendukung Rasulullah dalam berbagai urusan dan pengawal yang menjaganya dari keburukan kaumnya.

Ibnu Hisyam mengatakan setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy mengintimidasi Rasulullah dengan beragam tindakan yang tidak dapat dilakukan saat Abu Thalib masih hidup. Bahkan, mereka berani melemparkan kotoran kepada Rasulullah sehingga ia pulang dengan kepala yang berlumuran tanah. Dalam keadaan itu, salah seorang putrinya segera membersihkan kepalanya dari kotoran itu sambil menangis.

 

Ulama Timur Tengah Dr. Said Ramadhan Al-Buthi mengatakan dalam The Great Episodes of Muhammad, merupakan suatu bentuk kebijaksanaan Allah menetapkan Rasulullah harus kehilangan Abu Thalib dan Khadijah, dua orang yang berperan penting dalam perjuangan Rasulullah. Semua itu menunjukkan dua hakikat penting.

Pertama, perlindungan, pemeliharaan, dan kemenangan hanya datang dari Allah yang telah berjanji untuk melindungi Rasul-Nya dari kaum musyrik. Sehingga, baik ada atau tidak ada orang yang melindungi Rasulullah, Allah tetap menjaga dia dari keburukan manusia dan memenangkan perjuangannya.

Hakikat kedua adalah penjagaan (al-'ishmah) dari manusia bukan berarti dia tidak mengalami intimidasi, siksaan, atau penindasan yang dilakukan musuh-musuhnya. Penjagaan yang dijanjikan Allah dalam firman-Nya adalah penjagaan dari pembunuhan atau segala kesulitan dan permusuhan yang menyebabkan terhentinya dakwah Islam.

Ini merupakan hikmah besar ketika sunnatullah menetapkan Rasulullah mengalami cobaan berat dalam berdakwah. Tujuannya supaya generasi Muslim berikutnya dan para juru dakwah dari setiap zaman selalu siap sedia menghadapi segala rintangan, cobaan, dan penderitaan dalam mengemban dakwah Islam.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement