Ratusan Ribu Anak Pengungsi Rohingnya Peroleh Pendidikan

Rabu , 27 Oct 2021, 14:46 WIB Reporter :Dea Alvi Soraya/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Pendidikan formal untuk pengungsi Rohingya disediakan Bangladesh dan PBB. Ilustrasi pengungsi Rohingya
Pendidikan formal untuk pengungsi Rohingya disediakan Bangladesh dan PBB. Ilustrasi pengungsi Rohingya

IHRAM.CO.ID, DHAKA—Pemerintah Bangladesh dan PBB tengah menyiapkan pendidikan formal berbasis kurikulum Myanmar untuk ratusan ribu anak-anak Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar.

 

Terkait

Bangladesh menampung lebih dari 1,1 juta Muslim Rohingya yang melarikan diri dari negara tetangga mereka, Myanmar. 

Baca Juga

Anak-anak, yang merupakan setengah dari populasi pengungsi, sekarang menghadiri 6.250 pusat pembelajaran informal yang dijalankan badan-badan PBB dan mitra bantuan di 34 kamp di Cox's Bazar, yang memberikan pendidikan dasar kepada lebih dari 354 ribu siswa.

Pemerintah Bangladesh pada Januari 2020 setuju dengan PBB bahwa anak-anak Rohingya harus diberikan pendidikan Myanmar untuk mempersiapkan diri mereka sebelum kembali ke negara mereka di masa depan. 

Namun program pengajaran ini sempat terhenti selama satu setengah tahun karena pandemi, dan diluncurkan kembali saat masa ajaran baru Bangladesh bulan lalu.

Regina de la Portilla, juru bicara badan pengungsi PBB di Cox's Bazar, baru-baru ini mengatakan kepada Arab News, “Kurikulum Myanmar akan diperkenalkan di pusat-pusat pembelajaran, sesuai permintaan pemerintah Bangladesh, dengan tujuan agar anak-anak dapat memulai kembali pendidikan mereka ketika mereka sudah dewasa dapat dengan aman dan sukarela kembali ke negara asalnya. Persiapan telah selesai untuk meluncurkan pilot.”

Kementerian Luar Negeri mengharapkan program itu akan diluncurkan segera setelah persiapan akhir sedang berlangsung. 

Seorang pejabat kementerian, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan, “Kami sedang mengerjakannya dan saat ini sibuk dengan persiapan di menit-menit terakhir. Kami berharap untuk meluncurkan kurikulum dalam waktu dekat.”

“Kami telah melakukan beberapa pengamatan dalam kurikulum untuk memasukkan budaya Myanmar. Tujuan kami adalah mempersiapkan mereka untuk berintegrasi dengan masyarakat Myanmar setelah mereka dipulangkan,” katanya.