Rabu 03 Nov 2021 05:50 WIB

Musim Olahraga Buzkashi Dimulai di Bawah Kekuasaan Taliban

Ketika Taliban berkuasa 1996, buzkashi dilarang karena dianggap tak bermoral

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Turnamen olahraga nasional Afghanistan buzkashi kembali dimulai.
Foto: Arab News
Turnamen olahraga nasional Afghanistan buzkashi kembali dimulai.

IHRAM.CO.ID, QARA SHABAGH – Turnamen olahraga nasional Afghanistan buzkashi kembali dimulai. Hajji Mohammad Pahlawan terlihat tengah melambaikan cambuknya sambil menarik kuda jantan abu-abunya. Kumpulan kuda bersaing dalam kontes terakhir di dataran luas, provinsi utara Samangan. Penunggang buzkashi yang dikenal chapandazan dipuja sebagai pahlawan.

Sekitar 3.000 penonton yang terdiri dari laki-laki bersorak saat Mohammad mengumpulkan rekan timnya menuju putaran kemenangan dan mendapat hadiah 500 dolar Amerika. Buzkashi berasal dari kata Persia buz berarti kambing dan kasih berarti menyeret. Olahraga itu telah dimainkan di wilayah Asia Tengah selama berabad-abad. Sayangnya, ketika Taliban berkuasa pertama kali tahun 1996, buzkashi dilarang karena dianggap tidak bermoral.

Keputusan itu memicu kekhawatiran di kalangan penduduk Afghanistan bahwa buzkashi akan kembali dilarang. Namun, sekarang, anggota Taliban tampak menyatu dengan penonton untuk melihat turnamen buzkashi setelah sholat Jumat.

Dilansir Arab News, Selasa (2/11), turnamen awal berlangsung di Qara Shabagh, tepat di luar ibu kota Samangan, Aybak, tempat pegunungan Hindu Kush bertemu dengan padang rumput Asia Tengah. Permainan ini dimulai dengan penunggang kuda mengangkut bangkai kambing atau anak sapi yang dipenggal dan dikeluarkan isi perutnya di sekitar batu sebelum dilemparkan ke lingkaran penilaian berkapur yang disebut jor.

 

Meskipun buzkashi tidak lagi menawarkan hadiah uang tunai besar kemenangan merupakan sebuah kehormatan. Dari seluruh provinsi utara Afghanistan, penonton datang berduyun-duyun. Ada yang berjalan kaki, naik sepeda, mobil, atau truk pick up.

Saat turnamen berlangsung dengan pemenang putaran awal masing-masing mengklaim 1.000 Afghan atau 11 dolar Amerika, kerumunan membludak. Salah seorang penonton Khasta Gul (45 tahun) berlari ke lapangan untuk menyemangati chapandazan favoritnya.

“Saya sangat senang olahraga. Saya mendukung penunggang favorit saya,” kata Gul. Permainan buzkashi dimainkan dengan kecepatan tinggi, chapandazan yang kekar, dan tipu daya. Kepala Distrik Feroz Nakhchir dan kapten klub tim bersaudara Abbas Bromand memberi selamat kepada Mohammad atas kemenangannya.

“Semua orang harus mendukung olahragawan dan. Kami akan mencoba membuat lebih banyak turnamen di seluruh negeri,” ujar dia. Penguasa Taliban Afghanistan belum meresmikan kebijakan tentang olahraga tetapi telah mengindikasikan pria dan anak laki-laki diizinkan untuk berpartisipasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement