Pengalaman Haji dengan Prokes Ketat 98 Tahun yang Lalu  

Jumat , 12 Nov 2021, 07:10 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Pengalaman Haji dengan Prokes Ketat 98 Tahun yang Lalu. Foto: ilustrasi haji tempo dulu
Pengalaman Haji dengan Prokes Ketat 98 Tahun yang Lalu. Foto: ilustrasi haji tempo dulu

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Perjalanan Ibadah Haji di masa sekarang ini begitu mudah dengan fasilitas serba mewah. Berbeda dengan perjalanan ibadah haji masa silam yang begitu menyusahkan perlu perjuangan keras untuk sampai di Tanah Suci, apalagi di masa pandemi.

 

Terkait

Pengalaman perjalanan haji dengan protokol kesehatan ketat karena pandemi kolera dan bagaimana situasi Pulau Kamaran, Yaman, sebagai tempat karantina dituliskan oleh Abdul Madjid bin Zainuddin, tokoh masyarakat melayu yang melakukan perjalanan ke tanah suci pada 1923. Di usianya yang ke 36 tahun dia menjelaskan dalam catatannya yang berjudul "Orang Melayu Naik Haji".

Baca Juga

"Catatan ini juga dicantumkan dalam buku 'Naik Haji di Masa Silam karya Henri Chambert Loir," tulis M Imran S Hamdani dalam bukunya Ibadah Haji di Tengah Pandemi Covid-19 Penyelenggaraan Berbasis Resiko.

Abdul Madjid menceritakan, sebelum naik ke kapal uap, jamaah haji harus divaksinasi sebelum diperbolehkan naik kapal uap. Sebuah tindakan pencegahan yang dikenakan padanya oleh pihak berwenang untuk mencegah wabah cacar. 

"Penyakit ini dan kolera sedang mewabah di tengah jamaah haji," katanya.

Konferensi sanitasi iternational terkait penanggulangan wabah kolera kembali dilaksanakan di Paris tahu 1926 dan menciptakan dua perjanjia. 

Pertama, perjanjian Anglo-Dutch yang mengatur tentang lalu lintas jamaah haji di selatan yaitu di pelabuhan di kamaran. Kedua, perjanjian negara-negara Timur Tengah yang mengatur dan memastikan kondisi kesehatan serta keselamatan jamaah haji yang berada di hijaz termasuk selama periode haji.

Kesepakatan yang juga dicapai dalam pertemuan saat itu adalah wajibnya vaksinasi cacar dan kolera bagi jamaah haji sebelum berangkat. Kesepakatan lainnya adalah adanya paspor khusus bagi jamaah haji dan rencana perjalanan ibadah haji yang harus dibuat dan ditandatangani oleh negara pengirim jamaah dan negara-negara Timur Tengah.

"Kedua hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan pemantauan lalu lintas jamaah haji," katanya.

Sejak tahun 1912, wabah kolera jarang terjadi lagi di tanah Hijaz, hanya ditemukan sedikit kasih sedikit pun demikian, wabah kolera dapat meledak setiap waktu jika peringatan sekecil apapun diabaikan. Wabah kolera kembali mencuat saat penyakit tersebut menyerang zaman pada tahun 2017. 

"Di mana kolera menyerang 365, 600 orang dan mengakibatkan 1.800 kematian dengan 5000 kasus aktif baru setiap hari," katanya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini