UE Harus Berkompromi Atasi Krisis Migran di Polandia-Belarus

Sabtu , 20 Nov 2021, 12:24 WIB Reporter :Rizky Jaramaya/ Redaktur : Esthi Maharani
Para migran bermalam di pusat logistik di pos pemeriksaan Kuznitsa di perbatasan Belarus-Polandia dekat Grodno, Belarus, pada Kamis, 18 November 2021.
Para migran bermalam di pusat logistik di pos pemeriksaan Kuznitsa di perbatasan Belarus-Polandia dekat Grodno, Belarus, pada Kamis, 18 November 2021.

IHRAM.CO.ID, MINSK -- Seorang ilmuwan politik dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Vladimir Sotnikov, mengatakan, solusi potensial untuk situasi krisis migran adalah Uni Eropa melakukan kompromi. Krisis migrasi di perbatasan Polandia dan Belarus telah meningkatkan ketegangan, termasuk dengan Uni Eropa (UE).

 

Terkait

"Mungkin, (sebuah) solusi bisa (untuk) UE menerima (Alexander) Lukashenko sebagai presiden (Belarusia) yang sah, dan kemudian Lukashenko dapat memulai negosiasi dengan UE untuk meredakan krisis dan berkompromi," kata Sotnikov, dilansir Aljazirah, Sabtu (20/11).

Presiden Belarus Alexander Lukashenko, mengatakan pasukan keamanannya dapat membantu para migran menyeberang ke Uni Eropa. Namun Lukashenko membantah bahwa dia mengundang para migran untuk masuk ke Eropa.

Pemerintah Eropa telah menuduh Belarus menciptakan krisis dengan membawa orang-orang dari Timur Tengah ke perbatasan. Eropa meuding Belarus mengumbar janji manis kepada para migran bahwa mereka dapat melakukan penyeberangan dengan mudah Eropa.

Belarus telah membantah klaim tersebut. Sebaliknya, Belarus mengkritik Uni Eropa karena menutup perbatasannya. Ketika ditanya apakah Belarus membantu para pengungsi dan migran yang mencoba menyeberang ke Polandia, Lukashenko mengatakan, hal itu kemungkinan dapat dilakukan.

“Saya pikir itu sangat mungkin. Kami orang Slavia. Kami memiliki hati.  Pasukan kami tahu para migran akan pergi ke Jerman. Mungkin seseorang membantu mereka. Tapi saya tidak mengundang mereka ke sini," ujar Lukashenko kepada BBC News.

Belarus pada Kamis (18/11) telah membersihkan tenda utama di perbatasan, dan menerbangkan repatriasi atau pemulangan pertama ke Irak. Kelompok-kelompok bantuan mengatakan, setidaknya 11 pencari suaka dan pengungsi telah tewas di kedua sisi perbatasan sejak krisis dimulai awal tahun ini. Mereka meyakini jumlah pengungsi yang tewas sebenarnya lebih tinggi.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan, Polandia telah memperburuk penderitaan dengan mengirim kembali para migran yang mencoba menyeberang.  Polandia mengatakan, mereka perlu menghentikan gelombang migran yang datang. Polandia dan sekutunya menuduh Belarus dengan sengaja mengundang ribuan migran dan pengungsi. Sebagian besar di antaranya berasal dari Timur Tengah.

Belarus sengaja menyalurkan para migran ke perbatasan dengan Polandia, sebagai tanggapan atas sanksi Barat terhadap Lukashenko yang kembali terpilih dalam pemilihan umum yang kontroversial tahun lalu. Sementara Minsk yang didukung oleh Rusia, menuduh pasukan keamanan Polandia melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Polandia memukul mundur orang-orang yang mencoba memasuki Uni Eropa.

Lukashenko dan sekutu utamanya, Presiden Rusia Vladimir Putin, berbicara melalui telepon pada Jumat. Mereka menekankan pentingnya pembentukan kerja sama antara Minsk dan Uni Eropa untuk menyelesaikan masalah. Sementara itu, Ukraina, yang berbatasan dengan Belarus dan Polandia, sedang bersiap secara sistematis dan menyeluruh jika krisis bergeser ke wilayahnya.

"Kami tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa Rusia akan memutuskan untuk secara sengaja mengirim sejumlah besar migran ilegal melalui Belarus ke wilayah kami,” kata Menteri Dalam Negeri Ukraina Denys Monastyrsky.

Denys mengatakan, situasi di perbatasan Ukraina saat ini terkendali. Tetapi dia memperingatkan bahwa, para migran yang memutuskan untuk menyeberang akan dipukul mundur dengan segala cara yang diperlukan, termasuk menggunakan senjata api.

Pada Jumat, Menteri Pertahanan Polandia, Mariusz Blaszczak, mengatakan, Polandia menerima proposal Estonia yang akan mengirim 100 tentara ke perbatasan.

Para migran dari kamp-kamp di sisi Belarus dibawa ke sebuah gudang besar yang penuh sesak, dan wartawan diizinkan untuk mewawancarai mereka. Di gudang tersebut, anak-anak berlarian dan para pria bermain kartu.

"Ini bukan kehidupan dan tidak permanen, ini seharusnya hanya sementara sampai mereka memutuskan takdir kita; membawa kita ke Eropa atau membawa kita kembali ke negara kita," kata seorang tukang listrik berusia 23 tahun Mohammed Noor kepada kantor berita Reuters.

"Apa yang saya inginkan untuk diri saya sendiri, saya juga berharap untuk orang lain, yaitu pergi ke Eropa dan menjalani kehidupan yang stabil," kata Noor.

Sementara itu di sebuah rumah sakit di Bielsk Podlaski, di sisi Polandia, dua migran yang ditangkap setelah menyeberang diberi perawatan sebelum dibawa pergi oleh penjaga perbatasan Polandia. Mansour Nassar (42 tahun), ayah enam anak dari Aleppo, Suriah telah melakukan perjalanan ke Belarus dari Lebanon. Dia menggambarkan cobaan beratnya selama lima hari di hutan.

 "Tentara Belarusia memberi tahu kami: 'Jika Anda kembali, kami akan membunuh Anda'," kata Nassar sambil menangis di ranjang rumah sakit.  “Kami minum dari kolam. Orang-orang kami selalu tertindas," ujarnya

Seorang dokter pengungsi Suriah yang tinggal di Polandia, Kassam Shahadah mengatakan, pasien takut dipaksa kembali ke Belarus. “Apa yang telah mereka lihat, apa yang telah mereka jalani di sisi itu adalah mimpi buruk bagi mereka,” katanya.

Komisioner hak asasi manusia Dewan Eropa Dunja Mijatovic menyebut, situasi kemanusiaan di sepanjang perbatasan sangat mengkhawatirkan. Dia menuntut agar gelombang migran di perbataaan Polandia dan Belarus dihentikan.

"Saya secara pribadi telah mendengarkan kisah mengerikan tentang penderitaan ekstrem dari orang-orang yang putus asa, mereka menghabiskan berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan dalam kondisi yang ekstrem di hutan yang dingin dan basah," kata Mijatovic. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini