Lembaga Tabungan Haji Sediakan Fitur e-Learning untuk Calon Jamaah

Kamis , 09 Dec 2021, 03:00 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Lembaga Tabungan Haji Sediakan Fitur e-Learning untuk Calon Jamaah. Foto: Jamaah haji asal Malaysia sudah tiba di Arab Saudi melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Kamis (11/9) (Republika/Zaky Alhamzah)
Lembaga Tabungan Haji Sediakan Fitur e-Learning untuk Calon Jamaah. Foto: Jamaah haji asal Malaysia sudah tiba di Arab Saudi melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Kamis (11/9) (Republika/Zaky Alhamzah)

IHRAM.CO.ID, KUALA LUMPUR—Lembaga Tabungan Haji Malaysia mengembangkan sistem e-learning haji dengan pengalokasian dana sebesar RM3 juta (Rp 10 miliar). Layanan itu akan dimulai bulan ini dan ditujukan sebagai upaya wadah penyampaian bimbingan haji, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Haji tahun 2021-2025.  

 

Terkait

Menteri di Departemen Perdana Menteri (Agama) Idris Ahmad mengatakan, selama pandemi Covid-19, sistem pembelajaran secara daring telah menjadi bagian dari norma kehidupan new normal. Dia juga merujuk pada terobosan yang dilakukan Otoritas Haji Arab Saudi yang juga menerapkan pemilihan dan penyaluran informasi secara digital keapda para calon jamaah haji maupun umroh.

Baca Juga

"Saya yakin telah tiba saatnya bagi calon jemaah haji Malaysia untuk membekali diri dengan keterampilan teknologi dan terbuka untuk cara-cara baru untuk melakukan haji,” katanya saat membuka Muzakarah (Diskusi) Haji Tingkat Nasional ke-38 untuk Musim Haji 1443H, yang dikutip di Bernama, Rabu (8/12).

Idris juga meluncurkan inisiatif digitalisasi TH terbaru yaitu aplikasi e-TAIB (Worship Lines–Call Center) untuk memudahkan jemaah haji menanyakan tentang aturan dan proses haji saat berada di tanah suci melalui live chat dengan ustadz. Menurut pernyataan TH, Muzakarah Haji yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 6 hingga 8 Desember itu, akan memberikan kesempatan kepada lebih dari 500 Penyelenggara Kursus Haji Malaysia (PEKTA) dan ulama untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menetapkan standarisasi.

“Dengan mengusung tema ‘Upgrading Understanding of Haj Knowledge In the New Normal’, lima makalah kerja akan dibahas dalam sesi tersebut oleh para anggota Komite Penasihat Haji yang memiliki pengetahuan luas dalam pelaksanaan haji,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Idris juga menyinggung kontroversi seorang aktor pria yang muncul dalam serial bertema gay yang viral di sosial media. Dia mendesak Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) untuk menyelidiki masalah tersebut.

“Kami mendesak negara MCMC untuk menyelediki lebih lanjut mengenai film yang bertentangan dengan norma budaya masyarakat Malaysia ini, karena Departemen Pengembangan Islam (JAKIM) hanya sebagai koordinator dan tidak dapat serta merta menjatuhi hukuman, karena itu adalah wewenang yurisdiksi dan otoritas agama,” ujarnya.

Baru-baru ini, jagat media digemparkan seorang aktor pria muda Malaysia yang berakting dalam serial bertema gay yang ditayangkan pada 5 Desember di aplikasi kencan gay dan streaming video.

sumber : Bernama
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini