Potensi Pasar Makanan Halal untuk Semua Kalangan

Rabu , 15 Dec 2021, 21:21 WIB Reporter : Fauziah Mursyid, Intan Pratiwi, M Nursyamsyi/ Redaktur : Agung Sasongko
Pengunjung melihat produk asesoris bersertifikasi halal yang dipajang dalam pameran Malang Islamic Movement di Mall Dinoyo City Malang, Jawa Timur, Kamis (2/12/2021). Kegiatan tersebut diadakan sebagai upaya mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing produk halal buatannya sehingga mampu memiliki akses yang kuat di pasar domestik maupun ekspor.
Pengunjung melihat produk asesoris bersertifikasi halal yang dipajang dalam pameran Malang Islamic Movement di Mall Dinoyo City Malang, Jawa Timur, Kamis (2/12/2021). Kegiatan tersebut diadakan sebagai upaya mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing produk halal buatannya sehingga mampu memiliki akses yang kuat di pasar domestik maupun ekspor.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir ingin umat Islam di Indonesia menjadi ombak dalam perekonomian, bukan sekadar buih di lautan. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, ucap Erick, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat industri halal dunia. 

 

Terkait

"Kita punya market yang besar dan potensi yang besar. Pada 2025, kelas menengah kita makin besar yang muslim, tapi jangan jadi buih, harus jadi ombak," ujar Erick saat seminar nasional bertajuk "Membersamai Indonesia Emas 2045 sebagai Kebangkitan Umat dengan Transformasi SDM berbasis Akhlak" di UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (11/12).

Erick menilai Indonesia selama ini hanya menjadi konsumen bagi negara lain. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang besar sebagai market.  Pun dalam industri halal seperti makanan halal yang justru sudah dilakukan oleh Amerika Serikat dan Brasil. 

"Lihat market kita besar tapi yang ekspor halal food bukan kita, ada AS dan Brasil. Brasil kalau ekspor pemain bola juga ada di kita, tapi kalau bicara halal food masa juga kita kalahan," ucap Erick.

Erick menyampaikan negara Asia Tenggara lain melakukan ekspor barang yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang masih mengandalkan ekspor raw material atau bahan mentah. Hal ini berbeda dengan ekspor Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, yang didominasi barang jadi dan setengah jadi.

"Kalau dibandingkan negara lain, kita masih ekspor 50 persen raw material. Padahal kita harus sepakat market kita untuk pertumbuhan ekonomi kita," ungkap Erick.