Mengapa PeduliLindungi tak Terintegrasi Sistem Arab Saudi?

Rabu , 15 Dec 2021, 22:42 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Mengapa PeduliLindungi tak Terintegrasi Sistem Arab Saudi?. Foto: Pengunjung memindai kode batang melalui aplikasi PeduliLindungi (ilustrasi).
Mengapa PeduliLindungi tak Terintegrasi Sistem Arab Saudi?. Foto: Pengunjung memindai kode batang melalui aplikasi PeduliLindungi (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Ketua Umum Sarikat Penyelenggaraan Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Rersfiadi mengatakan, pemerintah tidak menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk disintegrasikan dengan sistem milik Pemerintah Arab Saudi. Solusinya pemerintah menggunakan Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) untuk memindai vaksinasi yang telah dijalani jamaah.

 

Terkait

"Aplikasi Siskopatuh juga bisa mengeluarkan sertifikat vaksin bagi jamaah," kata Ketua Umum Sapuhi, Syam Resfiadi saat dihubungi Republika, kemarin.

Baca Juga

Syam mengatakan demi keamanan data jamaah Indonesia, pemerintah tidak menyambungkan aplikasi PeduliLindungi dengan aplikasi tawakalna milik Arab Saudi. Mamang sebelumnya pemerintah telah berkoordinasi dengan Arab Saudi agar aplikasi PeduliLindungi yang bisa membaca hasil vaksinasi seorang dapat disambungkan dengan sistemnya Arab Saudi. 

"Karena PeduliLindungi sepertinya tidak mau mengeluarkan akses bisa dibaca di negara lain. Karna sekarangkan PeduliLindungi sudah hampir digunakan mayoritas  warga Indonesia dan dia ngelink dengan Dukcapil jadi mungkin khawatir adanya hacker masuk ke dalam sistem Dukcapil," ujarnya.

Untuk itu, sebagai alternatif, pemerintah Indonesia menggunakan Siskopatuh untuk scan vaksin ketika sampai di Arab Saudi. Siskopatuh ini bisa membaca nama, nomor paspor dan menunjukkan sudah berapa kali jamaah vaksin dengan jenis vaksinnya.

"Jadi tidak bisa kita paksakan pemerintahan kita membuka sehingga ada satu cara sendiri. Maka dibuat satu sistem yaitu Siskopatuh oleh Kementrian Agama," katanya.

Syam menuturkan, tekinsnya para penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) akan memasukan data masing-masing jamaahnya. Untuk itu ketika discan di petugas Bandara di Arab Saudi muncul data jamaah, nama, nomor paspor dan jenis vaksin.

"Setelah entri oleh PPIU data data dari calon jamaah termasuk nomer paspor dan segala macam outputnya. Salah satunya menghasilkan sertifikat vaksin yang bisa di baca untuk Indonesia pas discan QR Code," katanya.

Menurut Syam, sampai sekarang pun, Siskopatuh ini belum bisa dibaca oleh sistem di Arab Saudi. Jika Siskopatuh tidak bisa dibaca petugas Bandara Saudi maka jadwal tanggal 23 umroh perdana bagi para pemilik PPIU ini dipastikan akan mundur.

"Kalau ini blum link ya tgl 23 akan mundur. Orang visa belum keluar, kalau visa belum bisa dikeluarkan itu adalah juga nanti akan jadi kendala," katanya.

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini