Merenungi Kembali Makna Haji Mabrur

Kamis , 30 Dec 2021, 18:10 WIB Reporter :Imas Damayanti/ Redaktur : Ani Nursalikah
Merenungi Kembali Makna Haji Mabrur
Merenungi Kembali Makna Haji Mabrur

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ibadah haji merupakan ibadah yang multidimensional. Umat Muslim melakukan ibadah haji semata-mata adalah untuk menuntaskan kewajiban dan juga memperoleh kemabruran dalam menjalankannya.

 

Terkait

Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI) Abudin Nata menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi batiniah dan spiritual, serta dimensi eskatologis filosofis. “Di dalam dimensi batiniah dan spiritual inilah haji mabrur masuk ke dalam bagiannya,” kata Abudin Nata dalam live streaming yang diselenggarakan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI), dengan tema “Menyegarkan Kembali Konsep Haji Mabrur”, Kamis (30/12).

Baca Juga

Merenungi ulang makna haji mabrur, kata dia, meliputi sejumlah perspektif yang lebih mendalam yang perlu dipahami. Mulai dari perspektif sufistik, pendidikan mental, filosofis, sosiologis, historis, psikologis, seni dan budaya, hingga teologis.

Dia menjelaskan salah satu perspektif yang termuat dalam ibadah haji. Misalnya perspektif sufistik, di mana ibadah haji yang merupakan interaksi seorang hamba kepada Allah secara beriringan dia berada di tengah-tengah lautan manusia.

“Al-hajju Arafah (orang bisa dikatakan telah berhaji setelah melaksanakan wukuf di Arafah). Ketika berada di situ, dia berada di dalam interaksi batin menyatu dengan Allah di tengah-tengah lautan manusia. Inilah kehidupan tasawuf yang autentik dan original, tidak dibuat-buat. Dia hanyut dalam komunikasi yang mendalam tanpa perlu menyepi di gua,” ujar dia.

Untuk itulah dia menyimpulkan seorang yang memperoleh haji mabrur adalah mereka yang memiliki akhlak multidimensional. Mereka adalah orang yang mementingkan dimensi sufistik hingga teologis dari perspektif yang disebutkan di atas.

Dari dimensi-dimensi itulah, kata dia, orang yang mabrur akan mentransformasikan nilai-nilai yang ia rengkuh ke dalam aksi-aksi sosial pembangunan masyarakat di wilayahnya. Maka tak heran selama ini tak sedikit alumni haji yang berhasil memberdayakan kampung halamannya dengan terinspirasi berhaji.

Wakil Ketua PW IPHI Sulsel Wasir Thalib menyampaikan salah satu dibentuknya PP IPHI adalah menekankan misi mengusung haji mabrur. Untuk mewujudkan misi tersebut, maka IPHI lebih banyak melakukan dakwah bil-hal, selain juga melakukan dakwah bil-lisan.

Ia juga menekankan kembali makna haji mabrur yang perlu diresapi. Menurut dia, mabrur adalah peringkat tertinggi bagi umat Islam dalam menjalankan sebuah ibadah haji. Di mana tujuannya adalah semata-mata karena ibadahnya hendak diterima Allah SWT.

Namun, di sisi lain dia mengakui, terdapat pula istilah haji mabrur yang diterima Allah SWT dari seorang hamba meski hajinya hanya dilaksanakan semata-mata untuk menggugurkan kewajibannya berhaji sebagai seorang Muslim.

“Lalu sepulang ke Tanah Air, tidak ada perubahan berarti di diri dia,” ujar dia.

Untuk itu dia melihat, berangkat dengan niat yang baik maka seyogyanya berhaji dilakukan dengan memenuhi panggilan Allah dan menuntaskan kewajiban seorang Muslim. Seiring dengan itu orang yang berhaji perlu menyambut perubahan-perubahan setelahnya, yakni perubahan akhlak yang lebih baik lagi.

“Ciri-ciri haji mabrur adalah mereka yang bicaranya sopan, tidak korupsi, tidak melakukan penipuan, banyak bersedekah kepada fakir miskin,” ujar dia.

Ketua Umum PP IPHI Ismed Hasan Putro menambahkan, ibadah haji merupakan suatu ibadah yang monumental dan dapat memberi dampak keislaman yang luar biasa. Untuk itu di tahun 2022, dia berharap IPHI dapat menjalankan program-program kerja dan bisa memberikan mandaat kepada seluruh alumni haji.

“Saya mengucapkan selamat tahun baru, mudah-mudahan pada 2022 kita bisa ebih berkembang. Dan IPHI bisa memberikan manfaat kepada alumni haji,” ujar dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini