Jumat 31 Dec 2021 23:23 WIB

Komisi Dakwah MUI Berencana Rutinkan Muhasabah Akhir Tahun

Muhasabah sebagai penggabungan upaya dan doa

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Agung Sasongko
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI KH Cholil Nafis
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI KH Cholil Nafis

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA—Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengartikan muhasabah sebagai penggabungan upaya dan doa, yang dianalogikan sebagai pasukan dan senjatanya. Pasukan tanpa sejata akan lemah, begitu juga senjata tanpa pasukan atau pemakainya, maka tidak akan menghasilkan apapun, kata dia. 

“Muhasabah ini penting untuk diakukan, jika kita kilas balik, awal tahun 2021 diawali dengan bancana banjir di Kalimantan, ada pula banjir bandang di Jawa Barat, dan sudah 20 bulan kita masih harus serba terbatas karena pandemi,” kata Kyai Cholil saat menyampaikan tausiyah dalam Muhasabah dan Istighasah Akhir Tahun MUI di Masjid Istiqlal, Kamis (30/12). 

Baca Juga

“Semoga di 2022 kita sudah bisa melepas segala belenggu yang ada, meski kita nanti tidak bisa langsung melepas masker, tapi minimal kita bisa terlepas dari lonjakan kasus Covid-19,” sambungnya.

Jika mengutip pengertian dari Abu Hasan Ali ibn Muhammad ibn Habib al-Mawardi, muhasabah adalah merenung di malam hari atau penghujung waktu, mencoba menyeleksi mana yang perlu dipertahankan, ditingkatkan, dan dihentikan. Merujuk pada pentingnya bermuhasabah, Kyai Cholil bersama Komisi Dakwah MUI juga berencana untuk merutinkan kegiatan serupa bersama ormas-ormas Islam yang dinaungi MUI. 

 

“Kita harus mengevaluasi perilaku kita di momentum akhir tahun ini, kalau itu baik maka teruskan, jika itu jelek, maka perbaiki diri. Tapi jika perbuatan itu membawa mudarat, maka hentikan,” kata dia.

“Insya allah kita juga akan rutinkan acara seperti ini di 2022, kami rutinkan menggabungkan ormas-ormas Islam yang terkumpul dalam naungun mui, mungkin bisa dua bulan sekali atau sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Kita hubungkan dengan pemerintah dan kepentingan umat, sehingga manfaat acara ini selain ngaji, selain istighosah, kita juga bisa bersama membangun persepsi umat, terlepas dari apapun perbedaan kita, dengan tujuan persatuan bangsa dan negara,” canangnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement