Rabu 23 Feb 2022 16:16 WIB

Muslim Selandia Baru Masih Berisiko Jadi Target Serangan Kebencian

Umat Islam di Selandia Baru masih berisiko menjadi target serangan kebencian.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Agung Sasongko
Umat Muslim di kota Queenstown, Selandia Baru, akhirnya meresmikan pembukaan masjid pertama
Foto: About Islam
Umat Muslim di kota Queenstown, Selandia Baru, akhirnya meresmikan pembukaan masjid pertama

IHRAM.CO.ID, WELLINGTON -- Umat Islam di Selandia Baru masih rentan dan berisiko menjadi target serangan kebencian. Demikian kesimpulan dalam dengar pendapat mengenai serangan masjid Christchurch.

Sidang koronal ini dilakukan untuk memeriksa saat-saat terakhir kehidupan 51 Muslim, yang terbunuh dalam serangan teror Christchurch pada 15 Maret 2019. Penyelidikan dibuka untuk menjawab pertanyaan yang belum terselesaikan, menyusul penyelidikan kriminal dan proses penuntutan dan Komisi Penyelidikan Kerajaan.

Baca Juga

Tujuan dari sidang ini adalah untuk menetapkan kondisi kematian korban dan membuat rekomendasi, untuk mengurangi kemungkinan serangan lain terjadi dalam keadaan serupa.

Dilansir di RNZ, Rabu (23/2), Dewan Islam Wanita telah meminta Koroner Brigitte Windley untuk memeriksa peran radikalisasi pada platform digital sebagai bagian dari penyelidikan. Pria bersenjata Australia yang melakukan serangan itu diketahui membenamkan dirinya dalam konten daring milik sayap kanan.

 

Koordinator nasional dewan Aliya Danzeisen dalam sidang itu mengatakan, pihaknya meyakini nyawa-nyawa tak berdosa bisa diselamatkan jika pihak berwenang menyelidiki kehidupan virtual teroris. Dia juga mengatakan umat Islam masih dalam bahaya dan bisa menjadi sasaran teroris di Selandia Baru.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement