Senin 18 Apr 2022 06:30 WIB

Perhatikan Adab Saat Safar atau Mudik

Adab Ketika Safar atau Mudik

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
 Perhatikan Adab Saat Safar atau Mudik. Foto:  Larangan Mudik. Ilustrasi
Foto: Antara/Dedhez Anggara
Perhatikan Adab Saat Safar atau Mudik. Foto: Larangan Mudik. Ilustrasi

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Ketika seseorang Safar atau mudik, berarti dia sedang melakukan perjalanan jauh ketempat satu yang dituju yaitu kampung halaman. Ketika sedang melaksanakan perjalanan mudik ini terdapat hukum-hukum syariat yang harus ditunaikan bagi yang menjalankannya.

"Oleh karena itu seseorang yang sedang dalam perjalanan dakwah ia mengetahui fiqih Safar," tulis KH Jeje Zenudin dalam bukunya "Seputar Masalah Puasa, Itikaf, Lailatul Qadar dan Lebaran".

Baca Juga

Hukum-hukum safar telah Allah jelaskan dalam Alquran dan hadist Rasulullah SAW. Tentang Safar Allah SWT dalam surah Anisa ayat 101 berfirman:

"Dan apabila kamu berpergian di muka bumi maka tidaklah mengapa kamu mengqasar Sholat."

 

KH Jeje mengatakan, menurut Ibnu Katsir bepergian di muka bumi pada ayat di atas itu maksudnya Safar. Dalam Surah Ali Imron ayat 137 yang artinya:

"Sungguh telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu ke segenap penjuru bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul." 

Dalam surah Al-Hajj ayat 46 Allah SWT berfirman:

"Maka tidak pernah mereka berjalan di bumi, sehingga hati akan mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar. Sebenarnya bukan mata itu yang buta tetapi yang buta itu ialah hati yang di dalam dada."

Sabda Rasulullah diriwayatkan dari Abu Hurairah ra Rasulullah SAW bersabda: 

"Safar (perjalanan) itu sepotong dari azab, yang salah seorang di antara kalian terhalangi dari makanan, minuman dan tidurnya. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan keperluannya, hendaklah dia segera kembali kepada keluarganya.” 

KH Jeje mengatakan, yang dimaksud azab di sini bukanlah balasan yang diperoleh karena melakukan perbuatan dosa tapi perasaan tersiksa dan merasa sakit. Yaitu rasa sakit yang ditimbulkar karena kesulitan yang terjadi pada perjalanan baik dengar kendaraan atau jalan kaki dengan meninggalkan sesuatu yang biasa berlaku.

"Rasa lelah dan kesulitan karena cuaca panas atau dingin atau hujan, kesusahan hati dan ketakutan perasaan sedih berpisah dengan keluarga dan shabat serta merasakan kerasnya hidup," katanya.

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement