Jumat 03 Jun 2022 08:12 WIB

AS Puji Mohammed bin Salman Atas Gencatan Senjata di Yaman

AS mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan mengakui peran MBS di Yaman

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Gedung Putih mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan mengakui peran Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) dalam gencatan senjata di Yaman.
Foto: AP/Amr Nabil
Gedung Putih mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan mengakui peran Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) dalam gencatan senjata di Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Gedung Putih mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan mengakui peran Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) dalam gencatan senjata di Yaman. Pujian yang diberikan Kamis (3/4/2022) kemarin disampaikan sebelum kunjungan Presiden Joe Biden ke Riyadh.

Juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan MbS dan Raja Salman pantas mendapat pujian atas peran mereka dalam perpanjangan gencatan senjata di perang Yaman.

"Gencatan senjata tidak mungkin terjadi tanpa kerja sama diplomasi dari berbagai penjuru di kawasan, secara khusus kami mengakui kepemimpinan Raja Salman dan putra mahkota Arab Saudi dalam membantu mengkonsolidasi gencatan senjata," kata Jean-Pierre.

Hingga Rabu (2/5/2022) lalu Gedung Putih mengatakan Biden masih merasa MbS merupakan "paria" karena intelijen AS menemukan perannya dalam pembunuhan dan penghilangan paksa oposisinya jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi. Pemilik hak tinggal di AS itu dibunuh di kantor konsulat Arab Saudi di Turki pada 2018 lalu.

Pemerintah Arab Saudi membantah keterlibatan MbS dalam pembunuhan tersebut. Sumber mengatakan Biden berencana berkunjung ke Arab Saudi dalam perjalanannya ke Eropa dan Israel pada akhir Juni mendatang.

Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan dengan Arab Saudi. Di saat Biden berusaha menurunkan cara harga bensin di AS. Sumber menambahkan Biden juga akan berpartisipasi dalam pertemuan Dewan Kerjasama Teluk di Riyadh.

Dewan itu terdiri dari Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Jean-Pierre tidak mengkonfirmasi rencana kunjungan Biden tersebut.

"Fokus presiden yang pertama dan utama adalah bagaimana terlibat dengan pemimpin-pemimpin luar negeri demi kemajuan kepentingan Amerika. Hal itu benar dengan Arab Saudi seperti berbagai tempat lainnya," kata Jean-Pierre.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement