Menjadikan Agama Sumber Kebahagiaan

Selasa , 21 Jun 2022, 16:00 WIB Reporter :Wahyu Suryana/ Redaktur : Agung Sasongko
Takwa (ilustrasi).
Takwa (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Fathul Wahid mengatakan, agama seharusnya dipandang sebagai hal yang membahagiakan, bukan menjelma jadi hal menakutkan, apalagi membahayakan. Karenanya, penting melantangkan pesan-pesan kegembiraan.

 

Terkait

"Karena kalau kita beragama dengan gembira insya Allah kita akan lebih mudah dalam menjalankan syariat Allah," kata Fathul di Auditorium Prof. Abdulkahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII, Senin (20/6).

Baca Juga

Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Drs Suwarsono, mengutarakan kegelisahannya tentang polemik yang menimpa umat Islam zaman ini. Saat kuat daya saing berbagai negara menguasai pasar dunia, negara-negara Islam justru membeku.

"Seolah kurang antusias untuk berpartisipasi menyaingi negara negara adidaya," ujar Suwarsono.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran, KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha), menceritakan kisah dalam Alquran tentang pertemuan sakral Nabi Musa dengan Allah SWT. Yang mana, Allah SWT diceritakan bertanya kepada Nabi Musa perihal barang yang dibawa olehnya.

Ia menilai, kejadian itu memiliki maksud agar Nabi Musa merasa damai dan bahagia saat bertemu dengan Allah SWT. Menurut banyak pakar analis, apa yang Allah SWT lakukan menghilangkan rasa grogi Musa, sehingga bertanya yang ringan-ringan.

Dewan Penasehat Pusat Studi Tafsir Alquran dan Hadis UII ini berpendapat, tiap orang memiliki ciri khas sendiri dalam menyukai sesuatu. Misal, dalam mencintai Nabi Muhammad SAW, sahabat-sahabat mencintai nabi dengan cara yang berbeda-beda.

Ada sahabat yang selalu ingin dekat nabi, tahu kegiatan sehari-hari nabi, bahkan tahu lekukan wajah nabi. Tapi, ada yang jarang bertemu nabi, bahkan tidak pernah bertemu nabi dengan alasan takut mengganggu atau selalu menundukkan kepalanya.

"Jadi, agama nggak perlu repot-repot, setiap orang memiliki caranya tersendiri dalam mencintai sesuatu, jangan mengira satu bentuk kebahagiaan itu dibentuk dalam satu versi saja," kata Baha.