Bus Shalawat Berhenti Beroperasi 10 Hari Saat Puncak Haji

Senin , 27 Jun 2022, 06:58 WIB Redaktur : Friska Yolandha
Petugas Seksi Transportasi Daker Makkah sedang melakukan simulasi pelaksanaan jalur Bus Shalawat di Makkah, Arab Saudi, Ahad (12/6). Sebanyak 204 bus shalawat akan melayani pergerakan para jamaah yang hendak sholat fardhu di Masjidil Haram.
Petugas Seksi Transportasi Daker Makkah sedang melakukan simulasi pelaksanaan jalur Bus Shalawat di Makkah, Arab Saudi, Ahad (12/6). Sebanyak 204 bus shalawat akan melayani pergerakan para jamaah yang hendak sholat fardhu di Masjidil Haram.

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Pelayanan Bus Shalawat akan berhenti beroperasi selama puncak haji. Bus berhenti operasi selama 10 hari, yaitu pada 4 Juli hingga 13 Juli 2022.

 

Terkait

"Jadi bus yang akan dipakai di Armuzna adalah bus yang sekarang dipakai untuk Bus Shalawat, jadi nanti setelah tanggal 5, coba perhatikan tidak ada lagi bus-bus Shalawat berkeliaran," kata Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Arsad Hidayat.

Baca Juga

Berdasarkan Rencana Perjalanan Haji 1443 H/2022 M, puncak haji yaitu wukuf di Arafah 9 Dzulhijjah bertepatan dengan 8 Juli 2022. Maka Bus Shalawat berhenti empat hari sebelum puncak yaitu 5 Dzulhijjah (4 Juli).

Bus shalawat yang sebelumnya memberikan layanan kepada jamaah calon haji Indonesia dari hotel ke Masjidil Haram akan ditarik seluruhnya untuk persiapan Arafah, Muzdhalifah, dan Mina (Armuzna). Setelah 5 Juli, Bus Shalawat tidak bisa dimobilisasi ke Masjidil Haram, karena seluruhnya dikonsentrasikan dan ditarik untuk persiapan pelayanan Armuzna.

Nantinya Bus Shalawat akan kembali beroperasi normal melayani jamaah dari hotel ke Masjidil Haram pada 14 Juli atau 15 Dzulhijjah.

Arsad mengimbau kepada seluruh jamaah haji Indonesia untuk tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram saat operasional Bus Shalawat berhenti sementara. Dalam periode tersebut juga, jamaah bisa melaksanakan shalat lima waktu di mushala yang tersedia di hotel tempat menginap.

"Saya sarankan untuk melaksanakan shalat lima waktu di masjid atau mushala sekitar lokasi jamaah tinggal dan tidak mungkin melaksanakan shalat di Masjidil Haram," katanya.

Hal ini juga sekaligus agar jamaah haji tidak terlalu lelah dan bisa menjaga kesehatan jelang puncak haji di Armuzna.

"Menyimpan tenaga untuk keperluan wukuf di Arafah yang saya yakin ini butuh energi yang tidak boleh kita kurangi," katanya pula.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini