Menjadi Mujaddid Pasca Haji

Ahad , 24 Jul 2022, 21:32 WIB Reporter :Andrian Saputra/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Menjadi Mujaddid Pasca Haji. Foto:  Wakil Menteri Agama yang juga Naib Amirul Hajj Zainut Tauhid Saadi melepas kepulangan 360 anggota jamaah haji asal Embarkasi Solo 1 (SOC 1) dari pemondokan di Al Keswah Tower, Jarwal, Makkah, Kamis (14/7/2022) malam.
Menjadi Mujaddid Pasca Haji. Foto: Wakil Menteri Agama yang juga Naib Amirul Hajj Zainut Tauhid Saadi melepas kepulangan 360 anggota jamaah haji asal Embarkasi Solo 1 (SOC 1) dari pemondokan di Al Keswah Tower, Jarwal, Makkah, Kamis (14/7/2022) malam.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Seorang Muslim yang telah haji sejatinya diharapkan tidak hanya memiliki peningkatan keimanan dan kesalehan individu. Lebih dari itu orang yang berhaji semestinya dapat melakukan pembaruan (tajdid) dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan. 

 

Terkait

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu'ti mengatakan banyak mujaddid di berbagai belahan dunia yang memperoleh pencerahan spiritual dan intelektual ketika berada di Tanah Suci. Salah satu contohnya adalah KH Ahmad Dahlan yang memberikan banyak gagasan pembaruan Islam setelah berhaji. Menurut Prof. mu'ti pertemuan Muslim dari berbagai negara ketika berhaji memungkinkan terjadinya pertukaran keilmuan yang kemudian menginspirasi orang yang berhaji agar tidak hanya saleh secara individu namun juga dapat melakukan perbaikan kehidupan masyarakat. Karena itu menurut Prof Mu'ti orang yang berhaji adalah agen perubahan sosial dan moral.

Baca Juga

"Mereka yang menunaikan ibadah haji dan mendapatkan pencerahan spiritual dan pencerahan secara intelektual itu tentu saja sangat kita harapkan untuk menjadi kelompok yang bisa mendorong terjadinya perubahan-perubahan dan pembaruan di dalam masyarakat kita," kata Prof Mu'ti saat membuka Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tema Haji dan Pembaruan Islam yang diselenggarakan daring beberapa hari lalu. 

Umat Muslim Indonesia telah melakukan perjalanan ibadah haji sejak abad ke-15. Pada masa ini perkembangan Islam di nusantara sangat pesat. Banyak kerajaan Islam berdiri terlebih pada awal abad ke-16. Kerajaan Islam atau kesultanan di bumi nusantara ini kemudian terlibat perdagangan internasional. 

Pada saat yang sama, kesultanan - kesultanan di nusantara mengirimkan delegasi ke Tanah Suci bahkan juga Turki. Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Azyumardi Azra para delegasi itu selain menunaikan haji juga untuk berdiplomasi dengan Utsmaniyah yang juga menguasai Makkah dan Madinah (haramain). Para delegasi itu kemudian mendapatkan penghormatan dan bendera  simbol pengakuan dari Utsmaniyah sebagai penguasa Muslim di nusantara. Seiring waktu, banyak pelajar dari nusantara yang berhaji sekaligus mendalami ilmu agama di Tanah Suci. 

"Jadi sejak abad ke-16 itu meningkatlah jumlah jamaah haji yang pergi dari nusantara ini ke Makkah dan Madinah. Sejak masa itulah kemudian juga sekaligus terutama yang muda-muda itu kemudian melakukan perjalanan sebetulnya selain melakukan ibadah haji tetapi juga menuntut ilmu ke Makkah terutama," kata Prof Azyumardi Azra saat  

Menurut Prof Azyumardi para pelajar nusantara yang belajar di Tanah Suci kala itu disebut ashabul jawiyin. Mereka melakukan perjalanan menaiki kapal melalui Semenanjung Arabia dan singgah di beberapa negara seperti Oman, Qatar, Yaman hingga sampai ke Jeddah dan Haramain. Para pelajar itu adalah ulama besar pada abad ke-17 diantaranya adalah Syekh Yusuf Al Makassari, Syekh Abdurrauf as-Singkili dan lainnya. Gelombang pelajar dari nusantara yang pergi ke Makkah pun semakin besar pada abad ke-18. Banyak ulama tanah air yang menjadi ulama besar di Tanah Suci. Namun demikian menurut Prof Azyumardi sejak tahun 90an terjadi kemunduran. 

"Guru terbesar yang paling akhir itu adalah Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani memang dari Padang yang menjadi kepala Madrasah Darul Ulum di Makkah yang kemudian dinasionalisasikan oleh pemerintah Saudi diintegrasikan menjadi sekolah umum. Sehingga kemudian lokus murid-murid Indonesia pada sejak awal 90an mengalami kemerosotan. Jadi jaringan ulama itu sudah merosot," kata Prof Azyumardi. 

Pada sisi lain di periode yang sama, menurut Prof Azyumardi terjadi perubahan-perubahan dalam transportasi haji dari kapal menjadi pesawat yang kian waktu semakin canggih. Lebih lanjut Prof Azyumardi juga menyoroti tentang aspek transformatif (tajdid) dari ibadah haji umat Muslim Indonesia yang berkurang signifikan pada masa kini dibandingkan pada masa lampau. 

Hal ini dibuktikan dengan sejumlah penelitian seperti yang dilakukan oleh Sartono Kartodirdjo yang menjelaskan bahwa  para jamaah haji (pada masa lalu) yang kembali dari Makkah kemudian mendirikan masjid, madrasah, pesantren dan jaringan keilmuan khususnya di pulau jawa. Bahkan menurutnya pembaruan atau tajdid telah dimulai sejak abad ke-17 melalui para ulama yang berhaji dan belajar di Tanah Suci. Para ulama yang pulang dari Tanah Suci melakukan pembaruan dari berbagai aspek. Terutama menurut Prof Azyumardi dalam mendekatkan tasawuf dan syariah. 

"Intinya murid-murid jawi yang semula berhaji tapi kemudian menetap di Makkah ketika kembali ke Tanah Air memainkan peran yang sangat penting di dalam pembaruan, tajdid dan islah di kepulauan nusantara ini yaitu terus menerus mendekat pada ortodoksi Islam yaitu pemahaman dan praktik Islam yang dianggap sah oleh ulama otoritatif, sahih, benar sesuai Alquran dan hadits serta ijtima para ulama," katanya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini