Angka Kematian Jamaah Haji Tahun Ini Rendah, Kapuskes Haji: Pertama dalam Sejarah

Selasa , 09 Aug 2022, 23:03 WIB Redaktur : Nashih Nashrullah
Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana, optimistis target kematian di bawah satu per mil bisa tercapai
Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana, optimistis target kematian di bawah satu per mil bisa tercapai

Oleh A Syalaby Ichsan dari Madinah, Arab Saudi 

 

Terkait

IHRAM.CO.ID, MADINAH – Angka kematian jamaah terbilang rendah hingga H-4 pemulangan terakhir jamaah haji Indonesia gelombang dua dari Madinah ke Tanah Air. 

Baca Juga

Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana, pun optimistis target kematian di bawah 1 per mil (1/1000) bisa tercapai.

Budi menyadari jika jumlah jamaah yang berangkat haji tahun ini berkurang lebih dari 50 persen. Adanya pembatasan usia maksimal 65 tahun juga bisa menekan angka kematian pada musim haji tahun ini. 

"Untuk angka per milnya yaitu target 1 per mil bisa tercapai. Mungkin tahun ini yang pertama dalam sejarah perjalanan ibadah haji,” kata Budi di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Madinah, Arab Saudi, Senin (8/8/2022).

Berdasarkan data dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kemenag, ada 87 jamaah wafat hingga Selasa (9/8). Sementara itu, jumlah jamaah wafat pada musim haji 2019 mencapai 473 orang yang terdiri dari jamaah haji reguler dan haji khusus. 

Sementara itu, jumlah jamaah wafat hingga hari ke-67 mencapai 461 orang. Meski demikian, jumlah jamaah haji 2019 memang lebih banyak karena mencapai 231 ribu jamaah. Pada tahun itu pun, pihak Arab Saudi tidak menerapkan ketentuan pembatasan usia.

Budi menjelaskan, adanya penurunan angka jamaah sakit dan jumlah kematian juga karena langkah antisipasi yang dilakukan pihak KKHI.

Menurut Budi, tim kesehatan melakukan langkah-langkah spesifik ada pula berbagai terapi dan promosi kesehatan. Para jamaah juga menjalani pemeriksaan ulang di KKHI dengan medical chekck up.

“Ada juga formasi 30, dimana tenaga kesehatan yang ada di kloter menangani 30 jamaah yang paling berisiko di kloternya. Memang dengan hanya satu dokter dan satu perawat tidak mungkin mengcover semua jamaah. Oleh karena itu. Kami fokus ke 30 jamaah itu. Mereka dipantau kesehatannya terus menerus. Alhamdulilah sejauh ini berhasil,” tutur Budi.

Selain itu, dia juga mulai melakukan digitalisasi dalam pelayanan kesehatan dengan menyediakan jam pintar bagi jamaah  dengan risiko kesehatan.

Menurut dia, digitalisasi dalam pelayanam kesehatan mutlak dibutuhkan untuk haji tahun depan. Dari uji coba yang diilakukan tahun ini, dia mengungkapkan, sudah cukup berhasil untuk memonitor data kesehatan para jamaah.

“Tahun ini untuk pelayanan kesehatan hampir semuanya sudah menggunakan telejamaah . Penggunaan teknologi ke depan tak terelakkan dan di Arab Saudi hal itu sudah mulai dilakukan,” ujar dia.

Dirawat

Jumlah pasien yang masih dirawat di Arab Saudi saat ini berjumlah 14 orang. Sebanyak 12 pasien dirawat di KKHI Madinah, sementara dua orang dirawat di rumah sakit Arab Saudi. Dari jumlah itu sebagain besar menderta penyakit jantung dan saluran pernafasan.

Budi berharap, semua pasien yang dirawat bisa pulang sebelum pelayanan KKHI berakhir pada 13 Agustus.

Namun, jika tidak memungkinkan paisen tidak perlu khawatir karena kesehatan akan terus dimonitor sampai dengan jamaah  dianyatakan layak pulang menggunakan pesawat terbang.

Untuk itu, pihaknya nanti akan berkonsultasi dengan Kantor Urusan Haji (KUH) dan Konsulat jenderal Republik Indonesia untuk mengatur kepulangan pasien yang sakit setelah masa layanan berakhir.

“Saat ini ada lima pasien yang siap dipulangkan ke tanah air. Sisanya masih menunggu. Untuk yang dirawat di rumah sakit Arab Saudi ya memang kasusnya agak berat. Kami juga intensif melakukan kunjungan dan berkonsultasi tentang kesehatan mereka. Mudah-mudahan mereka bisa sembuh dan dinyatakan layak pulang ke Tanah Air,” kata Budi.

Pada kesempatan itu, Budi juga mengimbau agar para jamaah  haji Indonesia yan masih berada di Madinah bisa menjaga kesehatannya. Saat ini masih ada sekitar 13 ribu jamaah yang belum pulang ke tanah air.

Dia mengingatkan kondisi cuaca di Madinah saat ini cukup ektrem. Terkadang panas terik kemudian turun hujan. Dia menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir terjadi badai pasir. Hal itu berpotensi menganggu kesehatan jamaah.

“Badai pasir bisa memicu sakit pernapasan seperti asma. Oleh karena itu kami mengimbau jamaah  tetap menggunakan masker saat berada di luar ruangan, " jelas dia.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini