Senin 12 Sep 2022 16:45 WIB

Yang Tersisa dari Penjarahan Manuskrip Irak

Banyak manuskrip Islam dan potongan teks penting hilang.

5.Bifolium dari Lima Surah sekitar tahun 1370 Halaman-halaman yang diambil dari manuskrip bagian-bagian Alquran yang dipilih dan dimulai dengan frasa Alhamdulillah. Setelah ditelusuri, manuskrip ini ditulis oleh Abdul Qayyum Ibn Muhammad Ibn Karamshah-I Tabrizi. Dijual seharga 37.800 poundsterling.  6. Mamluk Alquran pada abad ke-14 Ayat-ayat dalam Alquran ini ditulis dalam aksara Muhaqqaq dan judulnya ditulis dengan Kufiq putih. Sebanyak 42 daun manuskrip itu diikat dengan kulit. Dekorasi pada Alquran ini menandai masa Dinasti Mamluk awal dan dijual 50.400 poundsterling.  7. Daun Quran pertengahan abad ke-14 yang dikaitkan dengan Arghun al-Kamili Halaman dari Alquran ini diyakini telah ditulis oleh al-Kamili, salah satu ahli kaligrafi paling produktif di Baghdad pada pertengahan abad ke-14 saat ibu kota Irak menjadi pusat seni kaligrafi. Al-Kamili adalah salah satu dari enam murid terkenal Yaqut Al-Mustasimi, sekretaris khalifah Abbasiyah terakhir. Daun ini tertulis dalam aksara Rayhani dan syairnya dipisahkan dengan mawar biru dan emas. Diperkirakan harganya sekitar 20 ribu sampai 25 ribu dolar Amerika.  8. Alquran yang disalin oleh Abdullah Al-Qadir Al-Husayni pada abad ke-16 Pada periode Safawi, Alquran ini merupakan manuskrip paling harus dan terpelihara dengan baik. Salinan Alquran diperdagangkan antara Kekaisaran Ottoman dan Safawiyah meskipun ada permusuhan di antara mereka. Alquran seperti ini sering ditawarkan sebagai hadiah kepada istana Ottoman oleh utusan Safawi. Naskah ini ditulis dalam skrip Naskh.
Foto: Arab News
5.Bifolium dari Lima Surah sekitar tahun 1370 Halaman-halaman yang diambil dari manuskrip bagian-bagian Alquran yang dipilih dan dimulai dengan frasa Alhamdulillah. Setelah ditelusuri, manuskrip ini ditulis oleh Abdul Qayyum Ibn Muhammad Ibn Karamshah-I Tabrizi. Dijual seharga 37.800 poundsterling. 6. Mamluk Alquran pada abad ke-14 Ayat-ayat dalam Alquran ini ditulis dalam aksara Muhaqqaq dan judulnya ditulis dengan Kufiq putih. Sebanyak 42 daun manuskrip itu diikat dengan kulit. Dekorasi pada Alquran ini menandai masa Dinasti Mamluk awal dan dijual 50.400 poundsterling. 7. Daun Quran pertengahan abad ke-14 yang dikaitkan dengan Arghun al-Kamili Halaman dari Alquran ini diyakini telah ditulis oleh al-Kamili, salah satu ahli kaligrafi paling produktif di Baghdad pada pertengahan abad ke-14 saat ibu kota Irak menjadi pusat seni kaligrafi. Al-Kamili adalah salah satu dari enam murid terkenal Yaqut Al-Mustasimi, sekretaris khalifah Abbasiyah terakhir. Daun ini tertulis dalam aksara Rayhani dan syairnya dipisahkan dengan mawar biru dan emas. Diperkirakan harganya sekitar 20 ribu sampai 25 ribu dolar Amerika. 8. Alquran yang disalin oleh Abdullah Al-Qadir Al-Husayni pada abad ke-16 Pada periode Safawi, Alquran ini merupakan manuskrip paling harus dan terpelihara dengan baik. Salinan Alquran diperdagangkan antara Kekaisaran Ottoman dan Safawiyah meskipun ada permusuhan di antara mereka. Alquran seperti ini sering ditawarkan sebagai hadiah kepada istana Ottoman oleh utusan Safawi. Naskah ini ditulis dalam skrip Naskh.

IHRAM.CO.ID,  Saat huru hara di tengah invasi terjadi, yang dijarah dari Iraq Museum tak hanya benda-benda arkeologi, tapi juga manuskrip Islam dan potongan teks penting.

Museum Awqaf

Baca Juga

Banyak yang menduga museum ini memiliki koleksi 'sepenting' MSS Library. Meski museum ini juga dalam kondisi malang, koleksi penting warisan sejarah di Irak tetap bisa diamankan di MSS Library.

Perpustakaan dan Arsip Nasional

 

Kondisi Perpustakaan Nasional Irak jauh lebih memprihatinkan dibandingkan museum meski kurang mendapat sorotan media. Beruntung manuskrip-manuskrip yang ada bisa diselamatkan.

Pun Arsip Nasional yang letaknya bersebelahan dengan Perpustakaan Nasional. Gedung Arsip Nasional rusak akibat dibakar dan memusnahkan koleksi mikrofilm. Lebih dari 30 ribu naskah dan dokumen penting era Turki Utsmani sebenarnya berhasil dipindahkan ke Badan Pariwisata Irak. Sayangnya, banjir membuat dokumen-dokumen itu rusak parah dan berjamur. Meski dibangkitkan kembali, koleksi dua institusi ini tentu tak akan seperti semula.

Dar al-Makhtutat al-Iraqiya (Pusat Manuskrip Irak)

Lembaga yang sebelumnya bernama Saddam Manuscripts Library ini merupakan lembaga yang menyimpan manuskrip penting bagi Irak yang dikumpulkan sejak 1988. Pusat Manuskrip Irak kini memiliki lebih dari 40 ribu manuskrip dan termasuk pusat manuskrip Islam terpenting di dunia.

Berkat kejelian Direktur Pusat Manuskrip Irak, Usama al-Naqsabandi, semua koleksi manuskrip dikemas dan dipindahkan ke tempat perlindungan antibom di barat Baghdad pada Desember 2002, saat ia melihat bibit perang mulai tumbuh. Warga lokal membantu menjaga manuskrip itu.

Meski begitu, karena kerusakan gedung utama dan dijarahnya beberapa perangkat, koleksi manuskrip harus mendekam di bunker selama lima tahun dan mulai rusak diserang serangga. Terpecahnya sikap pemerintah soal ke mana semua koleksi manuskrip itu harus kembali ditempatkan, Iraqi Museum akhirnya jadi tujuan penempatan pada 2008.

Awqaf Library

Apa yang terjadi di Awqaf Library ternyata lebih serius. Perpustakaan ini memiliki 6.000 volume manuskrip dalam bahasa Arab, Turki, dan Persia yang berisi 7.500 teks. Gedung Awqaf Library dibakar pada 14 April 2003. Laporan The Independent bahkan menyebut ketinggian api mencapai 30 meter ke langit.

Perpustakaan ini memuat koleksi lengkap karya Abdullah al-Juburi selain 43 salinan kaligrafi dan kopian hadis, geografi, dan sejarah. Beberapa koleksi di sana bahkan terbilang langka dan unik seperti salinan tafsir hadis oleh Ibnu Qutayba, karya geografi Semenanjung Arab karya al-Hasan Lughda al-Isfahani yang merupakan salah satu deskripsi detail Hijaz dan tempat-tempat suci Islam lain generasi awal. Karya penting lain adalah kumpulan hadis oleh Abu I-Thana Mahmud al-Damashqi bagi Sultan Mamluk Barquq.

Juga karya Ahmad Faris al-Shidyaq yang berisi kritik Gospel Krisitani dan naskah tentang hubungan Islam dengan peradaban modern. Sebagian di antaranya sempat dibuat mikrofilm dan dicetak ulang di Amman, pada 2003. Namun, banyak di antara karyanya yang masih belum dipelajari para ilmuwan dan sekarang karya itu musnah tiada.

Bayt al-Hikma

Bayt al-Hikma adalah pusat pendukung riset kesenian dan kemanusiaan semi-privat yang dimiliki Irak. Tempat ini sepenuhnya terbakar dan dijarah. Meski 'hanya' memuat 100 manuskrip, tapi koleksi di sana termasuk penting termasuk Alquran abad kesembilan, salinan Maqamat karya al-Hariri pada abad ke-12, naskah filosofi Ibnu Sina, dan manuskrip al-Alusi pada abad ke-19. Tak ada koleksi yang tersisa di sana, entah dijarah atau habis terbakar.

Akademi Sains

Akademi Sains Irak tak luput dari aksi massa. Beruntung, sebagian besar manuskrip sudah dipindahkan ke Pusat Manuskrip Irak. Mayoritas di antaranya adalah manuskrip berbahasa Suriah.

Di luar Baghdad, perpustakaan-perpustakaan di Mosul dan Basra juga mengalami keruskan parah, termasuk perpustakaan publik dan universitas. Sayangnya, tak ada laporan detail mengenai hal ini.

Invasi atas Irak yang berlanjut ke Nasiriya dan Najaf serta bombardir kota-kota tua pada 2004 masih menyisakan tanya, apakah manuskrip dan benda bersejarah di sana selamat, rusak, atau tumpas tak berbekas. 

sumber : Islam Digest
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement