Selasa 21 Oct 2014 15:09 WIB

Terpikat Misteri Jabal Magnet di Madinah (1)

Jabal Magnet.
Foto: Republika/Zaky Al Hamzah
Jabal Magnet.

Oleh: Zaky Al Hamzah, Madinah, Arab Saudi

 

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Setelah berziarah dan membacakan doa untuk 70 Syuhada termasuk paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah, di kompleks pemakaman Jabal Uhud, saya berkunjung ke Jabal Magnet (Magnetic Hill) atau Gunung Magnet di Madinah, Arab Saudi. Jabal Magnet yang terletak di sebah utara Kota Madinah ini semakin lama semakin populer dan menjadi salah satu tempat wisata jamaah haji atau umrah, terutama dari Asia.

Jabal Magnet terjarak sekitar 60 kilometer (km) dari Kota Madinah atau sekitar 30 menit dengan mobil Media Center Haji (MCH) yang saya tumpangi dan disupiri Ahmadan Saidi (mukimin --penduduk Indonesia yang bekerja di Arab Saudi). Selain saya dan Ahmadan, di dalam mobil ini terdapat M Sidik Sisdiyanto (Kasie MCH Jeddah yang juga staf Humas Kemenag RI), Umi Kalsum (jurnalis viva.co.id).

Selama perjalanan menuju Jabal Magnet, kami memandangi sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit berbatuan dengan beberapa tanaman setinggi satu meter. Sekitar 10-12 km menjelang Jabal Magnet, ada sebuah danau buatan yang besar dan bendungan dengan lebar sekitar 20 meter. Setelah melewati danau buatan, kami melihat hamparan padang pasir tapi dipenuhi beberapa tanaman yang agak tinggi, sekitar 1-1,15 meter.

Ada satu-dua rumah tampak sederhana. Di sekitar rumah terdapat alat permainan seperti ayunan, papan luncur dan tempat-tempat duduk tampak atap. Menurut Ahmadan --yang sudah 28 tahun menetap di Arab Saudi-- tempat permainan tersebut akan ramai dikunjungi warga setempat saat petang hingga malam, karena suhu tak terlalu panas.

Selanjutnya, kami tiba di Jabal Magnet. Bukit dan pegununan di Jabal Magnet hampir sama dengan gunung-gunung lain di Tanah Suci, yaitu penuh pasir dan bebatuan. Namun, kekhasan bukit di Jabal Magnet adalah bebatuan bukitnya didominasi merah bata, beberapa agak hitam. Oh ya, sekitar 15 km sebelum tiba di tempat yang disebut-sebut sejumlah orang sebagai pusat Jabal Magnet, mobil yang kami tumpangi melaju dengan berat. Ahmadan mengaku harus menginjak pegas dengan kencang agar tak tertarik mundur, ke arah Kota Madinah. Hal itu dilakukan Ahmadan hingga tiba di lokasi yang disebut pusat Jabal Magnet.

Setelah mobil berhenti, Ahmadan lantas menyetel rem tangan. "Kalau tidak dipasang, mobil akan mundur," ujarnya. Saya minta bukti dan turun dari mobil untuk merekam pergerakan mobil. Di dalam mobil hanya terdapat Ahmadan dan M Sidik. Ahmadan lantas melepas rem tangan, sedangkan M Sidik bertindak sebagai 'komentator' bahwa mesin mobil sudah dimatikan dan rem tangan dilepas. Mobil lantas mundur seperti ada yang menarik ke arah Kota Madinah.

Mesin mobil kemudian dihidupkan dan dilaju ke depan dengan kecepatan 20 km per jam, walau hanya berjarak 15 meter. Aksi melepas rem tangan dan menghidupkan mesin mobil diulang dua kali, satu di tanah berpasir dan di jalan aspal. Dua video rekaman saya membuktikan bahwa mobil mundur ke arah Kota Madinah tanpa mesin menyala. Video ini saya unggah ke Youtube.

Puas mengambil dokumentasi dan bukti bahwa mobil mundur otomatis, kami lantas kembali ke kota. Saat mobil diarahkan ke kota, Ahmadan kembali mematikan mesin. Dan...Subhanallah, mobil melaju sendiri tanpa mesin menyala, apalagi di gas. Mobil berjalan sendiri ke arah depan secara perlahan. Laju mobil kemudian bergerak semakin cepat, mulai dari lima km per jam, 10 km per jam, perlahan berubah menjadi 50 km per jam, 100 km per jam, dan terakhir 120 km per jam.

Apakah benar secara ilmiah atau tidak, Ahmadan mengatakan bila kekuatan magnet benar-benar bekerja menarik kendaraan ke arah Kota Madinah. Setelah berjalan sekitar 10-12 km, laju mobil kemudian menurun perlahan. Mesin mobil akhirnya dihidupkan dan mengarah ke danau buatan tadi. Sebelum jalur ke danau (dari arah Jabal Magnet), sebenarnya ada jalan menuju ke perkampungan Baduy. Menurut teman-teman jurnalis MCH Madinah, di perkampungan itu bisa dijumpai perkebunan kurma dan peternakan unta. Saya menyesal baru mengetahui hal ini setelah kembali ke Kantor Misi Haji Indonesia.

Menurut sejumlah informasi, termasuk dari Pak Ahmadan, Jabal Magnet yang menjadi kawasan wisata penduduk Madinah maupun jamaah haji dan umrah, awalnya ditemukan oleh orang suku Baduy. Saat itu, seorang Arab Baduy menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, namun lupa menyetel rem tangan. Ketika selesai melakukan hajatnya, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. Ia berusaha mengejar, tapi tidak berhasil. Mobil tersebut dikabarkan baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan.

Berikut videonya:

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement