REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Tim Pengawas Haji DPR RI, Saleh Partonan Daulay mencari tahu alasan warga negara Indonesia yang melempar umrah di luar jadwal yang telah ditentukan oleh pemrintah.
Saleh mendapatkan cerita dari Pagubuh Adrianto kloter 61 Embarkasi Surabaya. Menurut yang diceritakan, bahwa pada awalnya para jamaah diminta untuk sarapan di tenda-tenda Mina.
Namun, sebelum sarapan ada beberapa orang jamaah yang ingin segera melontar jumrah saat itu. Karena sarapan sudah disediakan, akhirnya mereka menunda terlebih dahulu keberangkatan sampai mereka selesai makan.
Setelah sarapan itulah rombongan yang terdiri dari sekitar 20 orang berangkat atas inisiatif sendiri bukan intsruksi resmi dari petugas haji.
"Mereka berangkat atas inisiatif sendiri, sementara jadwal resmi dari pemerintah untuk jamaah Indonesia melontar adalah selepas subuh, sore hari, dan malam hari," ujar Saleh dalam siaran pers kepada Republika.co.id,Jumat (25/9).
Menurut cerita Adrianto, istrinya juga sempat jatuh dalam insiden Mina, Adrianto berusaha keras sekuat tenaga untuk membangunkan dan membawa istrinya ke pinggir supaya tidak terinjak-injak.
Pada saat itu, ada jamaah asal Maroko yang membantu mengangkat istrinya dan masuk ke tenda mereka. Lalu, disanalah Andrianto dan istrinya berdiam diri menunggu keadaan sedikit tenang. Kemudian Adrianto bersama istri kembali masuk ke pemondokan mereka.




