REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Kemudian, anggota Kelompok terbang (Kloter) JKS 61 Embarkasi Jakarta Ira Sukamiharja (53 tahun) mengingat suaminya yang pernah bilang bahwa banyak orang yang bercita-cita meninggal di Tanah Suci ketika berhaji.
Dalam keadaan sadar, dia berpikir mungkin ini cara Allah mengabulkan doa suaminya, Yuhan. Dia pun mengingat wajah tenang Yuhan ketika terjatuh di antara tumpukan jamaah lain.
Setelah merasa pulih, Ira mencoba berjalan. "Saya hanya terpisah. Saya coba cari bantuan untuk kembali ke tenda jamaah Indonesia," ujar dia.
Dia berjalan dengan kaki telanjang hingga bertemu dengan polisi setempat. "Saya teriak 'Help me'," kata dia. Namun, polisi itu melarangnya kembali dan mengantarkannya ke tenda tempat tinggal jamaah asal Armenia.
Di tenda itu, Ira kembali mendapat asupan makanan untuk memulihkan tenaganya mulai dari air gula, susu, dan makanan besar. "Saya dipaksa makan dan berkali-kali kepala saya disiram air," ujar dia.
Ira tidak ingin bertahan lebih lama di tenda milik jamaah Armenia itu. Sebab, lebih lama justru dia tidak akan mendapatkan kepastian atau informasi apapun.
Keluar tenda, dia melihat mayat sudah menggunung. Dia menguatkan tekad untuk mencari jamaah lain asal Indonesia. Tekadnya berbuah hasil, dia bertemu jamaah Indonesia.
Bersama jamaah Indonesia itu, dia melanjutkan perjalanan menuju Jamarat. Perjalanan yang tidak mudah tanpa alas kaki. Dia sudah mencoba membungkus kakinya dengan plastik tapi panas masih membakar kulit telapak kakinya.
Ira tidak kehabisan akal. Dia meminta seorang jamaah memberikan sepatunya sembari menawarkan sejumlah uang. Sepatu itu memastikan kakinya aman ketika melangkah ke Jamarat.
Usai melontar jumrah aqabah, Ira merenungi peristiwa yang baru dialaminya. Hakikat yang harus dia petik. Namun, dia hanya sampai pada kesimpulan hidupnya berkat kuasa Allah. "Mungkin saya masih harus hidup, demi anak-anak," ujar dia.




