Jumat 06 Jan 2017 06:06 WIB

Berhaji Lintas Provinsi Sebabkan Waiting List Papua Barat Mencapai 14 Tahun

Jamaah haji antre naik pesawat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Jumat (21/8).
Foto: Antara
Jamaah haji antre naik pesawat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Jumat (21/8).

Oleh: DR Mulyadi Djaya*

=============

Setiap tahun minat menunaikan ibadah haji di Papua Barat terus meningkat. Hal ini tampak dari waiting list (daftar tunggu) terakhir yang dikeluarkan Bagian Urusan Haji Kemenag Papua Barat Rabu (5/1) mencapai 14 tahun dengan jumlah calon yang sudah mendapatkan porsi sebanyak 8.397 orang.

Dari sembilan Kota/Kabupaten di Papua Barat paling singkat daftar tunggunya adalah Kabupaten Teluk Wondama 11 tahun dan yang paling lama Kabupaten Teluk Bintuni bisa sampai 21 tahun.

Papua Barat sebagai provinsi baru mulai menyelenggarakan pemberangkatan haji sendiri -terlepas dari Provinsi Papua pada 2005- hingga tahun 2007 waiting list hanya butuh waktu satu tahun.

Sepuluh tahun berikutnya daftar tunggu mencapai delapan tahun. “Syukur saya mendaftar haji pada tahun 2006 dan mendapat porsi untuk berangkat pada tahun 2008. Tapi karena ada tambahan kuota saya bisa berangkat pada tahun 2007,” ujar Hj Hindun Adam warga Manokwari.

Lamanya menunggu naik haji ini selain disebabkan semakin tingginya minat umat Islam menunaikan rukun Islam kelima tersebut, juga karena adanya pemotongan kuota haji 20 persen. Selain itu, juga disebabkan adanya praktik daftar haji lintas provinsi maupun kabupaten.

Mereka itu merupakan calon haji dari provinsi lain yang mendaftar di Papua Barat. Ada yang berasal dari Sulawesi Selatan dan provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Hal ini karena di daerah asalnya sudah mencapai 20 hingga 30 tahun. Maka dengan ajakan keluarga dan kerabat mereka kemudian mendaftar naik haji melalui berbagai kabupaten di Papua Barat yang dianggap masih kosong.

“Sangat disayangkan adanya calon haji yang datang dari provinsi lain, sementara saya yang sudah mendaftar tahun 2014 baru bisa berangkat pada tahun 2020 mendatang. Umur saya sekarang sudah 67 tahun,” ujar Rais Tuharea pensiunan guru yang tinggal di Manokwari. Sebenarnya, Rais bisa berangkat pada musim haji 2016 lalu melalui jatah TPHD (Tim Pendamping Jamaah Haji Daerah) Papua Barat namun gagal karena usianya sudah 65 tahun, porsinya pun kemudian diganti orang lain.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement