Senin 31 Jul 2017 15:35 WIB

Intip Semangat Mariah, Jamaah Haji Tertua di Indonesia

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Qommarria Rostanti
Baiq Mariah Binti Abdul Gani (104), jamaah haji tertua Indonesia asal Lombok Barat, NTB.
Foto: Muhammad Nursyamsyi/Republika
Baiq Mariah Binti Abdul Gani (104), jamaah haji tertua Indonesia asal Lombok Barat, NTB.

IHRAM.CO.ID, Semangat berhaji Baiq Mariah patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, meski telah berusia 104 tahun, semnagat Mariah untuk menapakan kaki di Tanah Suci tidak pernah surut.

Dia telah menunggu bertahun-tahun untuk bisa berhaji. Syukurlah, tahun ini doa Mariah dikabulkan  oleh Allah SWT. Ya, Mariah akan segera terbang menuju Baitullah pada musim haji kali ini.

Usianya yang lebih dari satu abad menobatkan Mariah sebagai jamaah haji tertua Indonesia pada 2017. Usianya terpaut 88 tahun dari Rihadatul Ais Kaziah dari Jawa Barat yang menjadi jamaah termuda di usia 16 tahun. Pernyataan tersebut diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui akun Facebook-nya pada Jumat (28/7).

Tekadnya bertamu ke Tanah Suci tak bisa ditahan lagi. Di usia senjanya, Mariah menyambut gembira panggilan Allah SWT untuk menunaikan rukun Islam kelima. Orang di sekitarnya lebih mengenal Mariah dengan sebutan Papuq (sebutan nenek dalam bahasa Sasak) Mariah. Sorot matanya yang layu ditambah indra pendengaran yang kurang, tak menghalangi niatnya untuk beribadah di Tanah Suci.

Republika.co.id menyambangi kediamannya di Dusun Mambalan, Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tampak sebuah spanduk bertuliskan mohon doa restu dengan foto Mariah terpampang tepat di pintu masuk gang menuju rumahnya.

Saat ditemui Republika.co.id, nenek yang tinggal bersama anaknya itu, dengan anggun duduk di Berugaq (gazebo) depan rumah. Nenek bernama lengkap Baiq Mariah Margani Muhammad binti Abdul Gani ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya mampu berbicara dalam Bahasa Sasak. Anak ketiganya, Baiq Hidiah, dengan sabar mendampingi dan membisikkan pertanyaan telinganya.

Meski pendengarannya samar-samar, antusiasme Mariah tidak meluntur sedikitpun jika sudah membicarakan Tanah Suci. Hal ini terlihat dari raut wajah dengan bola matanya yang terang benderang jika sudah menyinggung soal Tanah Suci.

"Ini dia sudah tidak sabar untuk berangkat," kata Hidiah, Senin (31/7).

Hidiah kerap berteriak cukup kencang di telinganya agar pembicaraan ini bisa didengar dan dipahami Mariah. Momen ini, kerap mengundang gelak tawa oleh para cucu dan cicit si nenek yang tengah berkumpul.

Mariah berhasil berangkat haji setelah bertahun-tahun menabung dari jerih payahnya sebagai buruh tani dengan mengandalkan penghasilan dari upah menanam padi di sawah tetangga. Sedikit demi sedikit penghasilannya sebagai buruh tani, dia sisihkan untuk bekal mendaftar haji pada 2010. Sebenarnya, Mariah baru akan berangkat haji pada 2019, namun adanya kuota tambahan membuatnya berangkat lebih cepat. Sembari menunggu berangkat haji, dia memanfaatkan dana hasil penjualan tanahnya untuk beribadah umrah pada 2014. Tak jarang, Mariah menyeka air mata yang hendak keluar kala disinggung tentang Tanah Suci, impian terbesar dalam hidupnya.

Di tengah keterbatasan fisiknya, Mariah mengaku sama sekali tidak khawatir dalam menunaikan ibadah haji. "Kenapa takut, kan ramai-ramai di sana," kata Mariah.

Hidiah menceritakan kalau ibunya sudah sangat tidak sabar untuk segera berangkat. Setiap ada tayangan tentang keberangkatan jamaah calon haji di daerah lain, sang ibu langsung meminta anak-anaknya menyiapkan perlengkapan pakaian ke koper.

"Ibu nggak sabar mau berangkat. Kemarin lihat di TV ada jamaah calon haji dari Pulau Jawa berangkat, eh dia minta siap-siapin koper," ujar Hidiah. Padahal, Mariah baru akan terbang ke Tanah Suci pada 24 Agustus. Mariah memiliki 15 orang cucu dan 10 cicit dari tiga anaknya yang semuanya perempuan yakni Baiq Sukiah, Baiq Sumenep, dan Baiq Hidiah.

Berbeda dengan sang ibu, Hidiah mengaku khawatir dengan ibunya yang berangkat seorang diri. Maklum saja, Mariah merupakan satu-satunya jamaah calon haji yang berangkat dari Desa Mambalan. Nantinya, keluarga akan meminta tolong kepada seorang polisi dari kampung sebelah yang juga akan berangkat haji. Hidiah berharap pemerintah memberikan pendampingan penuh kepada ibunya karena hanya bisa berbahasa Sasak.

"Ibu mah senang sekali berangkat, tiap hari nanyain terus koper sudah diisi belum. Kita yang di sini ini yang khawatir," kata Hidiah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement