Ahad 27 Aug 2017 20:33 WIB

Ini Evaluasi Tim Pengawas Kesehatan Haji Tahun Ini

Rep: RR Laeny Sulistywati/ Red: Bilal Ramadhan
Evakuasi terakhir lima jamaah haji di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Madinah, Senin (21/8). Namun, masih ada empat jamaah haji yang sebetulnya bisa dievakuasi, tapi terkendala paspor.
Foto: Republika/Ani Nursalikah
Evakuasi terakhir lima jamaah haji di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Madinah, Senin (21/8). Namun, masih ada empat jamaah haji yang sebetulnya bisa dievakuasi, tapi terkendala paspor.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Tim pengawas kesehatan haji melakukan evaluasi pelaksanaan ibadah haji 2017 ini, termasuk penambahan tenaga kesehatan, adanya fasilitas toilet, hingga pendamping yang sehat untuk jamaah haji yang memiliki risiko tinggi. Wakil Ketua Tim Pengawas Kesehatan Haji Dede Yusuf mengatakan, pihaknya sengaja fokus pada urusan kesehatan.

Ini karena dari total jamaah haji yang berangkat ke Tanah Suci, 60 persen di antaranya adalah jamaah haji memiliki risiko tinggi (risti) yang berarti berusia diatas 60 tahun. Dari usia 60 tahun, kata dia, hampir 60-70 persen diantaranya memiliki permasalahan penyakit yang dikategorikan perlu diwasadai yaitu yang mengenakam gelang kuning dan merah.

Setelah empat tim pengawas haji yang diterjunkan ke lapangan, pihaknya mendapati beberapa fakta. Pertama, jumlah dokter dan perawat yang menjaga jamaah haji harusnya bertambah. "Idealnya dua dokter dan lima perawat bekerja untuk satu kloter tetapi faktanya hanya satu dokter dan dua perawat yang bekerja per kloter," katanya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (27/8).

Ia menyebut mengenai kuota tenaga medis memang belum berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag), jadi jumlahnya belum berubah dan hanya satu dokter dan dua perawat yang bekerja. Padahal, jumlah jamaah haji mencapai lebih dari 200 ribu jamaah yang terdiri dari puluhan hingga ratusan kloter.

 

Evaluasi lainnya, ia menyebut dari embarkasi menuju bus bisa memakan waktu dua hingga tiga jam. Namun, tak ada toilet selama perjalanan di bus itu. "Tidak ada WC, kamar mandi (di bus). Jadi jamaah haji kerepotan," katanya.

Ke depannya ia meminta pihak maskapai Garuda yang ditunjuk untuk memberikan pelayanan bus itu supaya menyediakam fasilitas kamar kecil di bus. Ini untuk memudahkan jamaah haji yang ingin ke toilet.

Tim pengawas kesehatan haji juga mengkritisi jamaah haji yang risti supaya ditemani muhrim atau keluarganya yang tidak lepas mengawasi selama 24 jam. Kalaupun ada pengawas, ia meminta pengawas yang sehat bugar untuk menemani jamaah haji risti tersebut.

"Sampai saat ini saya lihat sudah 112 orang (jamaah haji) meninggal kan. Tentu kita mesti memantau menemani para manula yang berangkat (haji) karena takut jatuh sakit," ujarnya.

Pihaknya juga menyoroti jumlah bekal peralatan yang dibawa per jamaah haji yang hanya mendapatkan tempat minum, masker, obat pegal, salep gel, plester luka. Timnya meminta ke depannya, persediaan minyak angin perlu ditambah karena banyak masyarakat yang membutuhkannya.

Ini penting untuk jamaah haji kalangan ibu-ibu yang sedang pusing, banyak sekali yang membutuhkan minyak angin. Yang tak kalah penting, kata dia, pelembab untuk kulit dan bibir pecah-pecah seperti Vaseline juga dibutuhkan.

Ia juga meminta pemerintah menyediakan es yang ditaruh tempat kompres untuk mendinginkan heat stroke. Ini mengingat kondisi Arab Saudi yang saat ini sedang panas dengan suhu mencapai 45 derajat celcius dan rentan menimbulkan heat stroke.

"Paling cepat ditutupi dengan kompres es," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement