Senin 02 Apr 2018 18:26 WIB

RS Haji Jakarta Rencanakan Pembaruan Alkes

Alkes di RS Haji Jakarta rata-rata sudah berusia 23 tahun.

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Dirut BRI Syariah Moch Hadi Santoso dan Dirut RS Haji Jakarta Syarief Hasan Luthfie didampingi Komisaris RS Haji Jakarta Syihabuddin Latief dalam penandatanganan kerja sama kedua pihak di Jakarta, Senin (2/4).
Foto: Republika/Fuji Pratiwi
Dirut BRI Syariah Moch Hadi Santoso dan Dirut RS Haji Jakarta Syarief Hasan Luthfie didampingi Komisaris RS Haji Jakarta Syihabuddin Latief dalam penandatanganan kerja sama kedua pihak di Jakarta, Senin (2/4).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- RS Haji Jakarta merencanakan pembaruan alat-alat kesehatan di sana untuk menunjang layanan dan akurasi pemeriksaan pasien yang lebih baik. Dengan proses menuju stasus badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Agama, kelak RS Haji Jakarta jadi memiliki tambahan opsi skema pembiayaan alkes.

Dirut RS Hajk Jakarta Syarief Hasan Lutfie menjelaskan, tentu RS Haji Jakarta akan berekspansi dan membarui alkes. Di era BPJS, RS Haji Jakarta harus punya standar fasilitas dan bangunan yang sesuai agar bisa melayani masyarakat dengan baik, baik peserta BPJS Kesehatan maupun pasien umum.

Alkes di RS Haji Jakarta rata-rata sudah berusia 23 tahun harus ada pembaruan baik alat habis pakai maupun tidak habis pakai. ''Kami ingin peningkatan layanan bisa ebih dari 50 persen. Kami berupaya keras untuk mencapai itu,'' ungkap Syarief usai pendandatanganan kerja sama RS Haji Jakarta dengan BRISyariah di Jakarta pada Senin (2/4).

Produk di RS Haji Jakarta terbilang spesifik. RS Haji Jakarta melihat BRISyariah mengerti dan bersedia mengakomodasi, baik untuk fasilitas dasar fisik atau non fisik dan unit bisnis yang tengah dikembangkan RS Haji Jakarta.

Komisaris RS Haji Jakarta Syihabuddin Latiefmenuturkan, RS Haji Jakarta nanti metakan alat yang harus diprioritaskan untuk diperbarui, seperti mesin CT Scan terbaru yang harganya Rp 12 miliar per unit. Akan sulit melakukan pembaruan alat bila mengandalkan pendapatan rumah sakit saja. Karena itu RS Haji Jakarta didorong untuk jadi BLU Kemenag agar bisa mendapat dukungan APBN.

''Saat ini opsi pengadaan alat menggunakan skema kerja sama operasi (KSO) dengan pihak ke tiga. Kalau sudah BLU nanti bisa dibantu APBN, di luar itu,l bisa dari perbankan seperti dari BRISyariah,'' ungkap Syihabuddin.

Syihabuddin menyebut saat ini ada 72 PTAIN dimana 17 UIN di antaranya adalah BLU. Kesiapan mereka pada pendapatan dari SPP mahasiswa dan perlu pengembangan unit bisnis juga.

RS Haji Jakarta sendiri punya potensi pendapatan selain dari pendapatan operasional, tapi juga pengembangan produk-produk kesehatan hasil riset yang seperti gelang kesehatan untuk memantau aktivitas fisik penggunanya. Bila 215 ribu jamaah haji nanti memakai jam kesehatan untuk membantu memantau istithaah kesehatan mereka sebelum haji dan pemasangan GPS sehingga mereka bisa dipantau selam di Tanah Suci. Juga potensi hampir satu juta jamaah umrah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement