Rabu 06 Feb 2019 00:45 WIB

Rekam Biometrik dan Penurunan Jumlah Jamaah

Peserta umrah terpaksa mengundurkan jadwal keberangkatan karena biometrik.

Rep: Mabruroh/ Red: Friska Yolanda
Jamaah Umrah sedang menunggu antrean rekam biometrik di salah satu cabang VFS Tasheel, Blok M, Jakarta Selatan. Jumat (25/1).
Foto: Republika/Muhammad Ikhwanuddin
Jamaah Umrah sedang menunggu antrean rekam biometrik di salah satu cabang VFS Tasheel, Blok M, Jakarta Selatan. Jumat (25/1).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (Amphuri) Firman M Nur mengatakan terjadi penurunan pascadiberlakukannya rekam biometrik calon jamaah umroh. Firman berharap, ke depannya ada solusi yang sama-sama menguntungkan dan tidak lagi mempersulit calon jamaah. 

“Dalam jangka pendek memang terjadi penurunan (jumlah jamaah),” kata Firman melalui sambungan telepon kepada Republika.co.id, Selasa (5/2).

Namun Firman berharap, seiring berjalannya waktu masyarakat akan lebih paham dan lebih mempersiapkan diri terkait prosedur baru yang harus dipenuhi tersebut. Sehingga masyarakat bisa jauh-jauh hari melakukan pengisian data biometrik sebelum mendaftar umroh.

“Biometrik ini masa berlakunya enam bulan ke depan, mungkin umat Islam yang hendak umrah ada waktu kosong silakan melakukan biometrik dulu, setelahnya masih bisa digunakan data biometrik tersebut untuk keberangkatan umrah,” kata Firman.

 

Ia menuturkan, pascaditetapkannya persyaratan baru rekam biometrik oleh Pemerintah Arab Saudi, banyak calon jamaah yang kesulitan. Di tambah lagi letak geografis Indonesia yang merupakan kepulauan dan belum meratanya kantor-kantor VFS Tahseel membuatnya perjalanan umrah semakin sulit dijangkau bagi mereka yang berada di daerah-daerah terpencil.

“Dulu kan cukup dengan buku kuning vaksin dan vaksin hampir semua daerah kita ada, nah biometrik ini tidak semua kota ada (VFS Tahseel),” kata Firman.

Misalnya saja ia mencontohkan, pada Senin (4/2) kemarin ada calon jamaah dari Manokwari, Papua. Di Papua tidak ada kantor VFS Tahseel yang akan memfasilitasi perekaman biometrik, sehingga mereka harus menuju Makassar untuk melakukan perekaman biometrik. 

“Ini menambah biaya, tiket bolak-balik Makassar, karena kita tidak bisa menyatukan proses ini menjelang keberangkatan. Prosesnya harus diselesaikan dulu setelah dapat baru kami proses visanya,” jelas Firman.

Kemudian, lanjut Firman, Amphuri mendapatkan satu korporasi membawa jamaah umrah yang hampir pesertanya seluruh Indonesia. Mereka harusnya Maret ini bisa diberangkatkan tetapi harus tertunda karena biometrik.

“Yang seyogyanya di awal Maret kami lakukan, akhirnya kami buat di awal April karena harus prepared 30 hari untuk mengakomodasi semuanya menyelesaikan proses biometrik,” jelas Firman.

Hal-hal seperti ini ungkapnya yang memberatkan masyarakat, baik dari segi waktu, biaya dan jarak. Jika biasanya jamaah yang hendak umrah bisa menentukan tanggal sekarang harus menghitung tanggal untuk juga melakukan perekaman biometrik, terutama yang di daerahnya tidak ada kantor cabang VFS Tahseel. “Sebagian kota yang tidak ada VFS Tahseel harus menjadwalkan dengan baik apakah dia bisa melakukan biometrik sampai H-12 sebelum dia berangkat,” jelas dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement