Ahad 18 Aug 2019 02:07 WIB

Kemenkes dan Kemenag Evaluasi Petugas Haji

Masih perlu dilakukan pembenahan untuk penyelenggaraan ibadah haji berikutnya.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Israr Itah
Jamaah haji melambaikan tangan di sekitar tanda lampu hijau sebagai tanda dimulainya putaran tawaf, Sabtu (17/8) dinihari. Tawaf dimulai dan diakhiri pada sudut Hajar Aswad dinding Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran.
Foto: Republika/Syahruddin El-Fikri
Jamaah haji melambaikan tangan di sekitar tanda lampu hijau sebagai tanda dimulainya putaran tawaf, Sabtu (17/8) dinihari. Tawaf dimulai dan diakhiri pada sudut Hajar Aswad dinding Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai pelaksanaan puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) relatif berjalan sukses. Meski demikian, dirasakan masih perlu dilakukan pembenahan untuk penyelenggaraan ibadah haji berikutnya. 

"Oleh karenanya dibutuhkan evaluasi bersama yang menyeluruh baik dari aspek pelaksanaan ibadah, pelayanan umum, maupun pelayanan kesehatan selama fase Armuzna," kata Ketua Sektor 7 Daker Makkah, Amar Manaf melalui keterangan tertulisnya kepada Republika.co.id, Sabtu (17/8).

Baca Juga

Pada Sabtu siang waktu setempat, Amar Manaf mengundang seluruh petugas haji yang berada di sektor 7 untuk mengadakan rapat evaluasi sekaligus mempersiapkan proses pergerakan jamaah haji menuju Tanah Air. Proses kepulangan jamaah haji Indonesia akan dibagi kembali menjadi dua gelombang. Pertama yang akan pulang ke Indonesia melalui Jeddah dan yang masih akan beribadah dan kembali ke Tanah Air dari Madinah.

Pada kesempatan tersebut, hadir pula Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Eka Jusup Singka, dan Kepala Bidang Bina Petugas Haji Arab Saudi, Affan Rangkuti. Eka mengatakan bahwa sinergi antara Kemenkes dan Kemenag sudah terjalin baik. Ini terjadi karena keduanya memiliki target yang sama yakni jamaah haji yang sehat agar ibadah hajinya bisa maksimal.

"Kalau jamaah haji sehat, maka ibadahnya lancar. Pulang membawa haji mabrur," kata Eka di hadapan ratusan petugas haji yang hadir.

Kepada para petugas kesehatan haji, Eka kembali mengutarakan tentang faktor risiko yang dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi jamaah haji. Ia berharap seluruh petugas agar lebih waspada dan bisa mengendalikan fakto-faktor risiko tersebut.

Faktor risiko yang membuat jamaah sakit itu, di antaranya terkait dengan lingkungan. Suhu udara di Arab Saudi jauh lebih panas dibandingkan di Indonesia. Begitu juga dengan kelembabannya yang rendah. Kedua kondisi ini menyebabkan mudah terjadinya penguapan. 

Karena, seringkali jamaah haji, terutama yang lansia, alarm tubuhnya tidak menyadari telah kekurangan cairan tubuh.

"Makanya saya selalu cerewet dengan mengingatkan selalu minum air," tekan Eka.

Ketiga faktor perilaku. Menurut Eka, masih banyak jamaah haji Indonesia yang belum menyadari pentingnya kesehatan kaitannya dengan ibadah haji. Ditambah lagi fakta bahwa 60 persen lebih jamaah adalah kelompok lansia. Selama Armuzna, banyak jamaah yang mengalami kelelahan dan heat stroke (sengatan panas) akibat perilakunya.

"Memaksakan diri untuk melontar jumrah atau keluar tenda Arafah tanpa mengenakan alat pelindung diri termasuk perilaku yang tidak peduli dengan kesehatannya sendiri," katanya.

Selain itu kata dia, yang tidak kalah pentingnya ialah faktor metabolik. Gangguan hormon atau enzim tubuh yang biasanya bersifat genetik, dalam hal ini penyakit tidak menular yang diidap jamaah. Bagi jamaah yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi, ketika suhu tubuhnya meningkat akibat kekurangan cairan, maka tekanan darahnya juga akan naik.

Demikian juga penyakit kronis lainnya semacam jantung atau diabetes melitus, akan mudah tercetus penyakitnya ketika kekurangan asupan cairan.

"Ilmunya sederhana, kendalikan air, gunakan APD, dan cukup istirahat. Itu saja," katanya.

Sementara itu, Affan Rangkuti meminta kepada seluruh petugas haji yang hadir agar menindaklanjuti apa yang telah disampaikan oleh Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes. Karena dakwah kesehatan haji tidak hanya menjadi tugas dari Kemenkes saja akan tetapi semua pihak yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji.

"Ini perlu disikapi secara bijak. Sebagai petugas perlu menyampaikan kepada jamaah haji tentang urgensi kesehatan dalam pelaksanaan ibadah haji," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement