Saudi Terus Berupaya Tekan Penyebaran Covid-19 di Makkah

Rabu , 15 Apr 2020, 20:28 WIB Reporter :Rossi Handayani/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Saudi menekan penyebaran Covid-19 di Makkah dan wilayah lainnya.  Bendera Arab Saudi.
Saudi menekan penyebaran Covid-19 di Makkah dan wilayah lainnya. Bendera Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Otoritas Saudi terus berupaya menahan penyebaran Covid-19 (virus corona), di mana daerah rumah yang padat dan kamp-kamp kerja telah mempercepat penyebaran infeksi virus. 

 

Terkait

Secara total jumlah kasus virus corona yang dilaporkan di Makkah mencapai 1.050 pada Senin (13/4), sementara di Riyadh 1.422 kasus. Banyaknya imigran tidak berdokumen di Makkah dan perumahan sempit para pekerja migran membuatnya lebih sulit untuk memperlambat tingkat infeksi.

Baca Juga

Pada akhir Maret, menurut sebuah dokumen, setelah lima karyawan yang berbasis di Makkah dari Saudi Binladin Group dites positif, pihak berwenang berlakukan 'lockdown' untuk 8.000 buruh dan menangguhkan pekerjaan pada perluasan masjid agung. Beberapa pekerja ditempatkan di karantina hotel.

Sementara itu, Perusahaan tidak menanggapi permintaan komentar. Selain itu, masih tidak kejelasan apakah kamp tetap terkunci.

Bagi Arab Saudi, melindungi Makkah dari pandemi yang melanda negara-negara seperti Italia dan Amerika Serikat sangatlah penting. 

Hal ini karena pentingnya kota tersebut bagi umat Islam di dunia, dan juga karena keluarga kerajaan mendasari aturannya dalam perwalian tempat kelahiran Islam.

Jutaan peziarah Muslim mengunjungi Mekah setiap tahun. Gelar resmi Raja Salman yakni "penjaga dua masjid suci".

"Hal ini akan mempertanyakan tanggung jawabnya dalam melindungi ruang-ruang itu, yang merupakan bagian dari legitimasi negara itu sendiri. Ini sensitif," kata seorang rekan tamu Middle East Program di Carnegie Endowment for International Peace, Yasmine Farouk, dilansir dari Bnnbloomberg, Rabu (15/4).

Secara keseluruhan, Arab Saudi telah melaporkan salah satu tingkat infeksi terendah di kawasan itu, dengan sekitar 5.000 kasus dalam populasi lebih dari 30 juta. Makkah merupakan salah satu kota Saudi pertama yang ditempatkan di bawah jam malam penuh.

Pihak berwenang mengambil tindakan pencegahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menangguhkan umrah pada Februari dan menutup masjid di seluruh negeri pada Maret.

Wabah ini menggarisbawahi masalah melonjaknya kasus nasional di kalangan warga asing. Menurut kementerian kesehatan, orang asing merupakan sepertiga dari populasi Saudi tetapi dengan 70-80 persen dari kasus baru. Sebuah tingkat yang memicu perdebatan tentang peran mereka dalam masyarakat. 

Beberapa orang Saudi telah menyerang orang asing, menuduh mereka menaikkan harga, menakut-nakuti dan menyebarkan infeksi dengan sengaja. 

Sementara yang lain menyatakan bahwa solusinya terletak pada kondisi kehidupan yang lebih baik untuk buruh asing penopang kehidupan sehari-hari, pengendara truk sampah dan yang membersihkan jalan.

Novelis Saudi, Mohammed Alwan baru-baru ini menulis di Twitter bahwa dia berharap pihak berwenang akan menciptakan persyaratan manusiawi untuk perumahan pekerja setelah pandemi. 

Menteri Kesehatan, Tawfiq Al-Rabiah, mengakui masalah tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin. Dia mengatakan komite pemerintah telah dibentuk untuk menangani masalah ini.

Pemerintah juga telah menjanjikan pengobatan virus corona secara gratis untuk warga asing, termasuk imigran gelap.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini